millahibrahim_1

You Tube

Berita

Thursday, July 8, 2010

27 Penyimpangan ESQ Ary Ginanjar Versi nahimunkar.com

KRISIS multi dimensi yang menimpa bangsa tercinta, bangsa Indonesia yang belum kunjung reda, dan bahkan makin melilit kuat menjerat rakyat kecil tanpa ada rasa belas kasih, serta membuat angka kemiskinan anak bangsa makin membesar, adalah akibat ulah tangan para pengelola yang tidak bertanggung-jawab. Keseimbangan yang merupakan ciri khas hukum penciptaan Allah diobrak-abrik oleh para pengelola bangsa yang buta mata hatinya.

Berbagai upaya dilakukan oleh berbagai komponen bangsa, baik secara kolektif, krusial dan rumit.

Di antara sekian upaya yang dilakukan itu adalah apa yang dilakukan oleh Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ Model-nya yang fenomenal. ESQ Model ini sudah tidak asing bagi masyarakat kita, bahkan buku monumental Ary yang berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual” sudah terjual lebih dari 150.000 eksemplar dan sudah dicetak lebih dari 20 kali!

…Di balik berbagai kebaikan yang terdapat pada ESQ Model, terdapat pula sisi negatifnya…

Ada sisi kebaikan yang terdapat di dalam ESQ Model ini, di antaranya adalah:

1. Menumbuhkan kesadaran akan eksistensi para peserta di muka bumi ini sebagai Khalifah (wakil Allah).

2. ESQ mampu menggugah nurani para peserta training dan mengenalkan wujud Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada mereka, kebesaran, keagungan, keperkasaan dan kemahapemurahan-Nya.

3. ESQ mampu menghidupkan kembali cahaya nurani para peserta training yang selama ini padam.

4. ESQ mampu mengasah spiritualitas para peserta.

Hal itu tampak jelas dari pengakuan banyak mantan peserta training yang selama ini merasa hati (spiritualitas)nya kering kerontang.

Namun, di balik berbagai kebaikan yang terdapat pada ESQ Model, terdapat pula sisi negatifnya, bahkan boleh dikata sudah menyangkut permasalahan yang sangat prinsip.

Di antara sisi negatif yang harus segera dihindari itu adalah sebagai berikut:

1. Ary Ginanjar yang mencetuskan model ESQ Training ini tidak mau mengatakan kalau ESQ Model yang diasuhnya sebagai lembaga dakwah atau sebagai kegiatan dakwah, padahal training yang diselenggarakan tidak lepas dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam, bahkan ada kutipan-kutipan perkataan shahabat nabi Shallallahu alaihi wasallam. Kenyataan ini ternyata berlawanan dengan yang tertera di dalam buku saku ESQ Model yang dibagikan kepada peserta secara gratis, sebagai berikut “Tiada hari tanpa dakwah” yang kemudian dikutip pula ayat al-Qur’an 125 dari Surat al-Nahl.

…Ary Ginanjar tidak mau menyebut ESQ yang diasuhnya sebagai kegiatan dakwah, padahal trainingnya tidak lepas dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Dan buku saku ESQ Model yang dibagikan kepada peserta tertera label “Tiada hari tanpa dakwah …

Di sela-sela trainingnya di hadapan para peserta dan pada saat emosi dan spiritual para peserta tersentuh Ary mengatakan ‘ini bukan sekedar training!’. Ia ucapkan lebih dari sekali.

Namun hal ini tidak masalah, apakah ESQ Model itu disebut lembaga dakwah atau bukan, akan tetapi jujur itu lebih baik ! Atau memang ada sesuatu hal yang terselubung di balik ESQ Model ini. Wallahu a‘lam.

2. Setiap suasana emosi dan ektasi, dzikir dan doa selalu diiringi dengan lantunan musik lembut, dengan maksud agar bisa mencapai pada titik alpha, tutur Ary. Bahkan dentuman suara musik yang selalu mengawali acara training pun sampai membuat jantung terasa sakit, sehingga tidak mungkin acara-acara seperti ini diselenggarakan di masjid-masjid. Ia memang pantas kalau diselenggarakan di hotel-hotel? Cara-cara seperti ini merupakan kebiasaan dan sunnah kaum Nasrani yang kita dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengikutinya.

Dalam kaidah ushul disebutkan: “tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara.”

…Cara-cara seperti ini merupakan kebiasaan kaum Nasrani yang kita dilarang oleh Rasulullah untuk mengikutinya. Kaidah ushul disebutkan, tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara…

3. Bershalawat sambil nyanyi pun dilakukan, bahkan Haddad Alawi yang berfaham Syi’ah yang sangat anti bershalawat kepada para shahabat Nabi menjadi bintang tamu. Dalam shalawatnya Alwi tidak pernah menyebut para shahabat Nabi.

4. Shalawat sambil menyanyi pun dianggap sebagai pengamalan terhadap perintah bershalawat kepada nabi yang tertera di dalam surah Al-Ahzab.

5. Shalawat kepada nabi Shallallahu alaihi wasallam itu artinya memohon kepada Allah, berdoa kepada- Nya agar rahmat, kedudukan yang mulia di sisi- Nya dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, Shallallahu alaihi wasallam. Oleh karena shalawat adalah doa, maka doa harus dilakukan sebagai mana doa lainnya, bukan dengan bernyanyi…..! Para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, para tabi‘in dan para pemuka imam Mazhab yang empat yang sudah tidak diragukan kecintaan mereka kepada nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah bershalawat dengan cara bernyanyi.

…Dalam training ESQ ini, zikir Lâ ilâha illalloh bersama sambil geleng-geleng kepala dengan suara nyaring pun dilakukan dan dipimpin oleh Ary sendiri…

6. Nuansa sufistik pun sangat kental dalam training ESQ ini, zikir Lâ ilâha illalloh bersama sambil geleng-geleng kepala dengan suara nyaring pun dilakukan dan dipimpin oleh Ary sendiri.

7. Tafsir batiniy terhadap rukun iman dan rukun Islam pun sangat kental, terutama dalam menafsirkan surat al-Fatihah dan ritual haji, sebagaimana akan disebutkan di bawah.

8. Ketika peserta sudah berada dalam kondisi tersentuh spiritualitasnya mereka disuruh sujud dan minta ampun dan ada juga yang bertakbir histeris. Sujud apa ini? Tidak jelas, sehabis sujud kadang diselingi dengan teriyakan yel-yel ESQ, Mars ESQ atau senam erobic atau lainnya.

9. Untuk menambah suasana histeris, petugas menghampiri peserta yang histeris menangis dan memperdengarkannya kepada khalayak melalui pengeras suara! Harus seperti inikah melatih dan mengasah ESQ para peserta?

10. Tafsir sufi (batiniy, isyaariy) terhadap surat Al-Fatihah pun terjadi, seperti ihdinas shirâthal mustaqîm (Ihdinâs dengan H besar, yang harus dibunyikan dari dalam perut diartikan “menunjukkan kesungguhan dalam beraksi” dan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya diartikan secara paksa agar sesuai dengan jiwa managemen perusahaan.

11. Demikian pula tafsir terhadap ritual haji. Bahkan tiga hari pertama dari training terkesan diartikan sebagai prosesi wuquf, yang dalam ESQ training berwujud ZMP, sedangkan hari keempat sebagai prosesi thawaf dan sa‘i. Thawaf dan Sa‘i diartikan sebagai simbol kerja keras (total action).

Yang lebih nyeleneh lagi adalah pada hari keempat ada simulasi sa‘i dan thawaf yang tidak hanya sekedar simulasi, melainkan benar-benar harus dirasakan seperti melontar jumroh, sa‘i dan thawaf di Ka‘bah yang harus dilakukan dengan ikhlas dan dengan niat yang sebenarnya .

Melontar diartikan membuang sifat-sifat buruk yang ada pada diri, dan yang dilempari pun adalah gambar makhluk yang menyeramkan (setan) yang telah disediakan panitia, berikut batu kerikil imitasinya. Sa‘i dan thawaf diartikan sebagai simbol kerja keras (total action). Seusai Sa’i di tempat training, maka peserta harus melakukan thawaf di tempat yang sama dengan mengelilingi Ka‘bah buatan. Ini benar-benar ajaran sufi yang menyimpang.

12. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu kepada para shahabatnya. Bahkan, Umar bin Khatthab, Radhiyallahu anhu (yang selalu mendapat ilham) pada saat melaksanakan ibadah haji di masa ke-Khalifah-annya tidak pernah mempunyai pemahaman seperti itu. Malah saat beliau akan mengecup Hajar Aswad beliau berkata: Hai Hajar Aswad, aku tahu bahwa kamu tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan madharat. Kalau saja bukan karena aku telah melihat Rasulullah mengecupmu niscaya aku tidak akan mengecupmu.

13. Sebelum mereka melakukan ibadah haji pun sudah “total action”, bahkan mengerahkan semua kemampuan dalam beramal dengan semangat ikhlas dan ihsan sudah mereka sadari sebagai tuntutan tauhid dan ketulusan mengabdi kepada Allah SWT, jauh sebelum mereka mengenal ibadah haji.

14. Dengan empat hari itu terkesan bahwa ajaran Islam sudah lengkap dan sempurna, maka ayat 3 surat Al-Ma’idah pun dibacakan sebagai tanda sempurnanya ajarannya. Dengan demikian ESQ Training mengesankan bahwa Islam ala ESQ itulah cerminan Islam sejati. Kesan ini pun lebih nampak lagi dengan dibuatnya kartu alumni bagi para peserta yang telah mengikuti training selama 4 hari, yang dengan kartu itu peserta dapat mengechas kembali iman mereka, sekalipun beberapa alumni sedang ‘ngechas’ yang kami wawancarai mengatakan “kami tidak menangis seperti waktu dulu saat training, karena tidak ada yang baru lagi bagi kami”.

…Bagi Ary Ginanjar, sumber utama kebenaran adalah suara hati. Kebenaran ‘Suara hati’ bagi Ary di atas kebenaran al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam…

15. Bagi Ary, sumber utama kebenaran adalah suara hati. Kebenaran ‘Suara hati’ bagi Ary di atas kebenaran al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Berikut ungkapnya: “Pergunakanlah suara hati anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, …..” Lebih lanjut ia mengatakan: “…., dan ayat-ayat Al Qur’an sebagai dasar berpijak (legitimasi). Dan yang terpenting adalah legitimasi suara hati anda sendiri, sebagai nara sumber kebenaran sejati” (Lihat: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, hal. Liv).

Suara hati dalam bahasa kaum sufi sering disebut dengan Dzauq (rasa hati) yang pada prinsipnya sama, yaitu sumber kebenaran sejati. Maka tidak heran kalau dari mulut mereka kita dengar ungkapan “haddatsanii robbii ‘an nafsii” (Tuhan ku menginformasikan kepada ku melalui jiwa ku). Juga ungkapan: “kalian belajar kepada orang yang sudah mati, sedangkan kami belajar langsung kepada Yang Maha Hidup”.

16. Keyakinan Ary yang lebih rancu dan sangat berbahaya lagi adalah ungkapannya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam kepribadiannya sebagai Rasul yang sekaligus sebagai pemimpin abadi sangat mengandalkan logika dan suara hati. Berikut ungkapannya: “Itulah

tanda bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam merupakan nabi penutup, atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati,…….” (Lihat buku Rahasia Sukses …. ESQ, hal. 100).

Padahal kita kaum muslimin meyakini bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam selalu bersandar kepada wahyu ilahi yang diturunkan melalui Jibril. Wahyu ilahi bukan suara hati!

…Bisakah Ary membedakan suara Tuhan dengan suara setan? Saya khawatir akan muncul Mirza Ghulam Ahmad abad baru lagi! Apa lagi Ary mulai dan sering mengutarakan hal-hal ganjil, seperti melihat cahaya yang ia yakini Allah, dan merasa ada hembusan angin malaikat di wajahnya…

17. Bisakah Ary membedakan mana suara Tuhan dan mana suara syetan! Saya khawatir akan muncul Mirza Ghulam Ahmad abad 21 dan Lia Aminuddin baru lagi! Apa lagi Ary mulai dan sering mengutarakan hal-hal ganjil, seperti melihat cahaya yang ia yakini Allah, dan merasa ada hantaman angin di wajahnya sehabis memberikan materi trainingnya, yang ia yakini hembusan angin malaikat! Subhanallah!!

18. Misteri Graha 165. Adalah graha yang dirancang untuk pusat Training ESQ. Setelah uji kelayakan tanah, ternyata tanah ini serupa kwalitasnya dengan tanah di Mekkah, maka Graha ESQ merupakan satu- satunya bangunan pencakar langit di Ibu kota yang dibangun tidak menggunakan pondasi pancang. Hal ini dianggap sebagai ‘karomah’ bagi Ary dan ESQ-nya.

Sample tanahnya pun dibuat cindera mata yang dipersembahkan kepada salah seorang tokoh di antar peserta training.

Graha ini pun dalam rencananya dilengkapi dengan satu ruang samedi (pertapaan) khusus bagi para alumni ESQ yang terletak di paling puncak bangunan. Ia bukan mushalla dan bukan juga masjid. Sebab mushalla sudah di sediakan di lantai bawah. Hal ini diungkapkan oleh Ary sendiri pada saat mengenalkan program pembangunan Graha 165 guna mendapatkan dukungan dana dari para peserta.

Dalam Islam tidak ada semedi atau pertapaan. Bahkan, apa yang pernah dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wasallam di gua Hira’ sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau tidak pernah menganjurkannya kepada umatnya dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorang pun di antara shahabatnya. Islam hanya mengajarkan i‘tikaf yang hanya bisa dilakukan di masjid-masjid.

…ayat al-Qur’an sering diartikan tidak pada tempat atau maksud yang sesungguhnya, hal ini banyak terdapat di dalam buku monumentalnya…

19. Ayat-ayat al-Qur’an sering diartikan tidak pada tempat atau maksud yang sesungguhnya, hal ini banyak terdapat di dalam buku monumentalnya. Seperti ayat QS 40 Surat al-Mu’minun, ayat 17, “Hari ini setiap orang mendapat balasan menurut usahanya. Hari ini tiada kezaliman. Allah sungguh cepat membuat perhitungan.”

Ary jadikan ayat ini sebagai legitimasi terhadap hadiah yang diberikan kepada seorang karyawan berinisial “DS” oleh atasannya yang di luar dugaan sebelumnya, karena telah melakukan suatu pekerjaan tanpa mengharapkan sesuatu apapun. (Lihat kisahnya pada halaman 52 dari buku ESQ). Padahal ayat di atas berkenaan dengan pembalasan Allah di hari akhirat kelak, yaitu pada yaumul hisab.

20. Model ESQ yang dicetus oleh Ary nampaknya menganut faham pluralisme agama. Hal itu tampak dari ungkapan salah seorang Profesor UI yang menjadi salah satu petinggi ESQ dalam sambutannya pada acara penutupan training. Bahkan, Prof Dr Komaruddin Hidayat yang menganut faham pluralis pun digandeng dan ditetapkan sebagai salah satu anggota sidang redaksi Majalah Nebula-nya ESQ yang dipimpin oleh Ary.

Faham pluralisme agama sudah difatwakan haram oleh majlis Ulama Indonesia tahun lalu, bahkan para ulama-ulama Islam sebelumnya menegaskan bahwa orang yang meyakini agama selain Islam benar adalah murtad.

…Model ESQ Ary Ginanjar menganut faham pluralisme agama. Faham pluralisme agama sudah difatwakan haram oleh majlis Ulama Indonesia…

21. Bagi para peserta yang selama ini belum pernah menangis karena takut kepada Allah, dan belum pernah merenungkan ayat-ayat al Qur’an dan ayat-ayat kauniyah, ESQ Training adalah segala-galanya. Bahkan akan berkesimpulan “ESQ Training” adalah jalan hidupnya. Dan bagi yang sudah pergi haji bersama group “ESQ Training” pun akan timbul rasa bahwa tidak sempurna bila tidak beribadah haji bersama group “ESQ Training”.

Tidak begitu halnya bagi orang yang sudah biasa dekat kepada Allah dan mengenal keagungan, kebesaran dan rahmat-Nya, ESQ Training itu biasa-biasa saja. Bahkan, bagi orang yang pernah tafaqquh fiddin dengan benar yang bersumber kepada al-Qur’an dan Sunnah secara komprehensif dan integral, ESQ Training perlu diluruskan.

22. Pengkultusan terhadap Ary dan ESQ-nya kini mulai kental terasa, dan jika tidak segera diwaspadai dan Ary tidak siap diberi nasihat dan selalu bersikap ZMP yang didengungkannya, maka tidak mustahil kalau “ESQ Training” akan menjadi agama baru bagi bangsa Indonesia. Apa lagi Ary dengan ESQ-nya mendapat respon dari pemerintah, bahkan mereka yang ikut dalam training pun bukan sembarang orang, melainkan para petinggi negara!

…Ary tidak siap diberi nasihat dan selalu bersikap ZMP yang didengungkannya, maka tidak mustahil kalau “ESQ Training” akan menjadi agama baru bagi bangsa Indonesia. Apa lagi Ary dengan ESQ-nya mendapat respon dari pemerintah…

23. Dalam mengartikan al-Asma’ul Husna dan dalam upaya merefleksikannya di dalam dunia bisnis dan leadership banyak disalahartikan dan dipaksakan agar sesuai dengan keinginan Ary.

Seperti nama “al-aakhir” diartikan Allah bersifat visioner, dan akhlaq yang harus diambil adalah manusia harus memiliki visi.

Al-jaami’ yang berarti Maha Penghimpun, Ary merefleksikannya dalam arti keharusan “kerjasama”. Dan masih banyak lagi nama-nama Allah lainnya yang disalahartikan. Di dalam menanamkan asma’ul Husna ini Ary mengutip hadits palsu yang sering dipakai oleh kaum sufi untuk menanamkan ajarannya, yaitu: takhallquu biakhlaaqil-llah (berakhlaqlah dengan akhlaq-akhlaq Allah).

Al-Matin: akhlaq yang harus diambil adalah sikap selalu berdisiplin. Kalau al-mutakkabbir yang ditiru atau diambil apanya ? Atau diartikan Yang Maha Pembesar, lalu kita berupaya ingin menjadi orang- orang pembesar?

Kalau al-hamiid apa direfleksikan kepada upaya keras agar kita menjadi orang terpuji seperti Dia, sehingga pujian mengarah kepada kita? Lalu kalau Allah adalah al-Khaliq, maka yang ditiru adalah sifat berkreasinya! Sehingga ketika memahami al-asma’ul husna terdapat pemahaman yang kontradiksi antara merefleksikan nama-nama Allah tersebut pada diri kita, sehingga kita berbuat (bersikap dan bertindak) seperti Allah (sebagai subject), dengan merefleksikannya pada diri kita sehingga kita menjadi object. Seperti pada al-jaami‘ dan al-Khaliq. Sebaiknya saudara Ary tidak memaksakan ayat, hadits atau pun nama Allah agar bisa sesuai dengan kehendak dirinya. Bacalah buku-buku para ulama berkenaan dengan masalah ini, lalu hayatilah!

Dalam masalah ini, kadang apa yang ditulis oleh Ary dalam bukunya, berbeda dengan yang ia sampaikan saat training.

…apa yang ditulis oleh Ary dalam bukunya, berbeda dengan yang ia sampaikan saat training…

24. Rukun iman juga mengalami tafsiran pemaksaan dari Ary, agar ESQ Training nya bisa dikatakan berdasarkan rukun iman (Mental Building). Untuk itu, rukun iman hanya dipahami dengan pemahaman-pemahaman yang bisa diarahkan menjadi sebagai prinsip-prinsip leadership, tidak komprehensif. Demikian pula rukun Islam yang diartikan sebagai landasan ketangguhan pribadi. Syahadat rasul terkesan hanya shalawat nya sebagai bukti cinta kepada Rasul, bukan bagaimana menjadikan sunnahnya sebagai pegangan dan pedoman. Yang diambil hanya yang berkaitan dengan keleadershipannya saja.

25. Rujukan dan sandaran Ary dalam penulisan bukunya adalah buku-buku yang bermasalah, seperti buku Sejarah Kehidupan Nabi yang ditulis oleh M. Haikal, juga tulisan Ali Syariati yang menganut faham syi‘ah.

…Rujukan dan sandaran Ary dalam penulisan bukunya adalah buku-buku yang bermasalah…

26. Hadits-hadits palsu yang biasa menjadi rujukan kaum sufi pun dijadikan sandaran ESQ Model-nya Ary, baik dalam buku yang pertama maupun dalam buku yang kedua. Sebut saja misalnya hadits palsu: Apabila engkau mengenal siapa dirimu, maka engkau mengenal siapa tuhannya, yang dalam terjemah letterlijknya sebagai berikut: Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal tuhannya.

Hadits palsu ini telah menyeret kepada faham manunggaling kawulo gusti (ittihaad, menyatu dengan Tuhan) dalam kalangan kaum sufi, dan ini pun terjadi dalam faham Ary. Setelah ia mengutip tulisan Ali Syari‘ati yang mengandung faham ittihad, Ary kemudian menyempurnakannya dengan apa yang ia sebut “untaian kata mutiara Syamsi Thabriz” yang berbunyi sebagai berikut: “Ka‘bah adalah pusat dunia. Semua wajah menghadap ke Ka‘bah. Tengoklah. Lihat! Setiap orang menyembah jiwa masing-masing”.

Faham sesat inilah yang dianut oleh al-Hallaj dan Syeikh Siti Jenar, yang aromanya sangat kental di dalam ESQ Model-nya Ary.

27. Begitu pula atsar-atsar palsu banyak dimuat dalam bukunya, seperti atsar (ucapan shahabat nabi atau tabi‘in), seperti atsar yang dinisbatkannya kepada Umar bin Khatthab, Radhiyallahu anhu berikut: Hatiku telah melihat Tuhanku karena hijab (tirai) telah terangkat oleh taqwa. Barangsiapa yang telah terangkat hijab (tirai) antara dirinya dengan Allah, maka jadi jelaslah di dalam hatinya akan gambaran kerajaan bumi dan kerajaan langit”. (Lihat Buku Saku ESQ).

…Dalam kutipan-kutipan Ary sama sekali tidak bersandar kepada rujukan-rujukan primer, melainkan mengekor kepada tokoh-tokoh sufi dan orang-orang yang tidak jelas keislamannya….

Dalam kutipan-kutipan seperti ini Ary sama sekali tidak bersandar kepada rujukan-rujukan primer, melainkan mengekor kepada tokoh-tokoh sufi dan orang-orang yang tidak jelas keislamannya.

Maklum, Ary bukan seorang pakar dalam ilmu Agama, melainkan seorang pebisnis tulen. Tetapi ia berani berbicara tentang masalah agama, bahkan dalam hal-hal yang sangat prinsip dalam agama. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Amin.

Masih banyak lagi catatan-catatan yang seharusnya dituangkan di sini untuk dijadikan bahan kajian dan kritikan yang membangun, bukan untuk menyudutkan atau mencemarkan nama baik Ary Ginanjar.

Buku “Rahasia Sukses…… ESQ” karya Ary yang diberi pengantar oleh sejumlah tokoh itu banyak memuat kejanggalan dan hadits-hadits palsu, menempatkan ayat-ayat al-Qur’an bukan pada tempatnya, harus dikaji ulang dan dikritisi secara objektif, sebagai wujud tawaashaw bil haqq.

…Sebaiknya, setiap para alumni Training ESQ Model-nya Ary jangan menutup diri untuk belajar Islam lebih jauh, dan jangan mengultuskan ESQ Model-nya Ary…

Sebaiknya, setiap para alumni Training ESQ Model-nya Ary jangan menutup diri untuk belajar Islam lebih jauh, dan jangan mengultuskan ESQ Model-nya Ary. Anda hendaknya tahu dan menyadari bahwa kelezatan spiritual yang anda rasakan dalam training ESQ itu sama sekali tidak menunjukkan kebenaran ESQ Model, sebab hal seperti bisa anda temukan di semua kelompok faham, bahkan di semua agama dan berbagai aliran kepercayaan!

Nabi Muhammad, Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya telah menghayati sedalam-dalamnya ajaran Islam, sampai pada tingkat ihsan yang paling tinggi, maka bercerminlah kepada mereka, dan cermin itu ada di dalam sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. [taz]

Tuesday, June 1, 2010

Kutuklah Israel dengan Segenap Nafasmu

Kutuklah Israel dengan Segenap Nafasmu
Diposting pada Selasa, 01-06-2010 | 11:48:58 WIB

Oleh Burhan Sodiq

Segala upaya dilakukan oleh negeri penjajah Israel untuk menghalangi misi kemanusiaan untuk Gaza. Bahkan mereka telah menyiapkan kapal perang untuk menyambut kapal yang membawa bantuan kemanusiaan yang berangkat dari Siprus itu. Tidak cuma itu, mereka juga melarang para aktivis dan orang-orang yang baik hatinya untuk ikut dalam misi kemanusiaan ini. Israel menyatakan bahwa Angkatan Laut mereka akan dikerahkan untuk mencegat konvoi bantuan dari sembilan kapal dari armada kebebasan yang akan masuk ke lajur Gaza lewat laut.

Peristiwa ini sungguh membuktikan bahwa Israel memanglah sebuah Negara penjahat sejati. Ia tidak mengenal bahasa belas kasihan, tidak pula mengenal bahasa kasih sayang, tidak pula mengenal rasa kemanusiaan. Warga dunia yang sudah mulai muak dengan ulahnya menindas Palestina seharusnya semakin sadar dengan Negara Zionis ini. Mereka seharusnya semakin paham bahwa Israel tidak bisa diajak bicara dengan bahasa kemanusiaan. Mereka hanya bisa berbicara dengan kekuatan militer dan kekerasaan.

Terbayang sebuah keramahan melawan kebengisan. Terbayang sebuah ketidakberdayaan melawan moncong senjata dan niat pembantaian. Terbayang senyum penuh keikhlasan melawan arogansi ketamakan. Terbayang pula semangat membantu sesama dihabisi oleh semangat membantai sesama atas dasar kebencian luar biasa.

Hari ini masyarakat dunia menjadi saksi betapa Israel tidak hanya memusuhi muslimin Palestina. Tetapi dia juga akan membasmi semua orang dari berbagai agama, tidak peduli siapa Anda, selama Anda peduli dengan Palestina, maka Israel akan dengan suka cita membunuh Anda, meski Anda tidak bersenjata.

Zionis ini akan memberikan kebengisan terbaik mereka. Zionis juga akan mempersembahkan kejahatan terbaik mereka untuk setiap Anda yang ingin membantu Palestina. Mereka akan menyambut Anda dengan segunung kebencian dan segudang permusuhan. Tidak ada beda apakah Anda muslim ataukah bukan. Selama Anda membela dan bersimpati pada Palestina, maka cukuplah itu sebagai alasan bagi mereka untuk menujukkan sifat aselinya.

Sementara lihatlah betapa kita akan selalu memaafkan. Betapa kita akan selalu hanya bisa mengutuk, menyesalkan dan prihatin atas apa yang terjadi. Ketidakadilan ini sudah sangat jelas di depan mata setiap penduduk dunia. Tetapi lidah pemimpin-pemimpin kita kelu seperti batu. Bisu, lesu dan tak lagi bisa menyeru. Senjata mereka mandul. Tidak mampu menyerang saat warganya dibantai di atas kapal. Apakah sukarelawan mesti harus mau dibantai secara sukarela juga? Hanya karena pemimpin negaranya tidak bisa berbuat apa-apa saat Israel raya menunjukkan kebengisannya?

Kita masih mampu berbuat, meski kecil terinjak oleh raksasa media. Gunakan kepekaan media yang dimiliki, gunakan dunia maya, dan dunia nyata untuk menyebarkan perang media. Raih simpati masyarakat yang sedang kebingungan membelanjakan hartanya, atau mereka yang sedah kebingungan besuk makan apa. Ajarkan kepedulian pada sesama manusia, apalagi sesama muslim yang berhak mendapatkan cinta kita. Ingatlah mereka di dalam doa doa malam kita. Sebarkan, berbuat dan lakukan propaganda. Karena kekejaman ini sungguh sudah di depan mata.

[muslimdaily.net]

Thursday, February 11, 2010

Mengungkap Hakikat Aqidah Syi’ah dan Pergerakannya di Indonesia


Aqidah Syi’ah sangat berbeda jauh dengan aqidah yang dianut oleh Ahlus Sunnah. Aqidah Syi’ah dibangun atas ajaran yang mendustakan riwayat yang berasal dari mayoritas sahabat Rasulullah Saw, sementara Ahlus Sunnah menerima semua riwayat yang dapat dipercaya dari semua kalangan sahabat tanpa membeda-bedakannya. Demikian inti pembicaraan yang disampaikan oleh Ust. Anung Al-Hamat, Lc selaku pembicara pertama, dalam acara tabligh akbar yang berjudul “Mengungkap Hakikat Aqidah Syi’ah dan Pergerakannya di Indonesia” di masjid Nurul Islam, Kel. Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, pada Ahad (10/01).
Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim ‘Alaa Bashiiroh bekerja sama dengan Yayasan Masjid Nurul Islam dan Radio Dakta 107 FM Bekasi. Pembicara dalam acara ini adalah Ust. Anung Al-Hamat, Lc dan Ust. Hartono Ahmad Jaiz. Hadir dalam acara ini Walikota Jakarta Utara atau yang mewakilinya beserta jajaran aparat Kecamatan Koja dan Kelurahan Tugu Selatan, tokoh agama dan masyarakat setempat, jamaah majelis ta’lim, dan jamaah kaum muslimin. Sebelum dimulai, acara diawali dengan pemutaran film dokumenter yang mengupas hakikat Syi’ah. Film yang berdurasi sekitar 35 menit ini dengan jelas memperlihatkan perbedaan-perbedaan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah.
Ust. Anung menjelaskan, sebagai bukti bahwa antara Syi’ah dengan Ahlus Sunnah itu berbeda, maka dapat dilihat dari beberapa hal, baik perbedaan yang bersifat pokok (ushul), maupun perbedaan yang bersifat rinci (furu’). Hal ini bisa dilihat dari kitab-kitab induk yang dimiliki oleh kaum Syi’ah, seperti kitab Al-Istibshar, Ushul Al-Kafi, Furu’ Al-Kafi, dll. Perbedaan yang bersifat pokok itu misalnya berkaitan dengan rukun iman dan rukun Islam. Rukun iman Syi’ah berbeda dengan rukun iman Ahlus Sunnah, rukun Islam Syi’ah berbeda dengan rukun Islam Ahlus Sunnah.
Rukun iman Syi’ah adalah: (1) At-Tauhid (Tauhid), (2) Al-Adl (Keadilan), (3) An-Nubuwwah (Kenabian), (4) Al-Imamah (Kepemimpinan), dan (5) Al-Maad (Hari Kiamat). Adapun rukun iman Ahlus Sunnah adalah: (1) iman kepada Allah, (2) iman kepada malaikat-malaikat Allah, (3) iman kepada kitab-kitab Allah, (4) iman kepada rasul-rasul Allah, (5) iman kepada hari akhir, (6) iman kepada qada dan qadar. Rukun Islam Syi’ah adalah: (1) Al-Wilayah (loyalitas kepada 12 imam), (2) Shalat, (3) Puasa, (4) Zakat, (5) Haji. Adapun rukun Islam Ahlus Sunnah adalah (1) sahadat, (2) shalat, (3) zakat, (4) puasa, (5) haji.
Kaitannya dengan para sahabat, kaum Syi’ah sangat berbeda sikapnya dengan Ahlus Sunnah. Kaum Syi’ah berani mengafirkan mayoritas sahabat Nabi Muhammad saw. Padahal, menurut Ahlus Sunnah para sahabat adalah orang-orang yang terbaik, atau umat yang terbaik sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT di dalam surah Ali Imran ayat 110. Kaum Syi’ah sangat memuja-muja Imam Ali r.a. melebihi penghormatannya terhadap Nabi Muhammad saw. Di sisi lain kaum Syi’ah sangat membenci sahabat Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., Mu’awiyah r.a., Aisyah r.a., Hafshah r.a., dan yang lainnya.
Begitu juga terhadap keberadaan kitab suci Al-Qur’an, Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini bukan Al-Qur’an yang sebenarnya. Syi’ah memiliki Al-Qur’an sendiri, yaitu mushaf Fatimah, yaitu mushaf seperti Al-Qur’an tetapi tiga kali lipat. Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang diyakininya itu tidak ada satu huruf pun yang sama dari Al-Qur’an yang ada saat ini. Sementara, Ahlus Sunnah meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini adalah benar-benar firman Allah yang diterima oleh Muhammad saw. yang keseluruhan isinya sudah lengkap dan sempurna. Faktanya adalah wahyu Allah itu diturunkan kepada para nabi, sementara Nabi Muhammad itu adalah penutup para nabi. Dengan demikian, kelengkapan dan kesempurnaan apa yang telah diterima oleh Nabi Muhammad saw. dari Allah SWT yang berupa Al-Qur’an itu adalah sebuah keniscayaan.
Selain perbedaan yang bersifat pokok, perbedaan yang bersifat rinci pun tidak terhitung banyaknya (banyak sekali). Ust. Anung mengambil beberapa contoh, di antaranya perbedaan dalam cara mengucapkan syahadatain. Cara adzan yang dikumandangkan oleh kaum Syi’ah juga berbeda dengan adzan yang dikumandangkan oleh Ahlus Sunnah. Adzan kaum Syi’ah itu sebagai berikut:
ALLAAHUAKBAR ALLAAHUAKBAR
ALLAAHUAKBAR ALLAAHUAKBAR
ASYHADU ALLAILAHAILLALLAAH
ASYHADU ALLAILAHAILLALLAAH
ASYHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH
ASYHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH
ASYHADUANNA 'ALIYAN WALIYULLAAH
ASYHADUANNA 'ALIYAN HUJATULLAAH
HAYYA 'ALASHALAA
HAYYA 'ALASHALAA
HAYYA 'ALALFALAA
HAYYA 'ALALFALAA
HAYYA 'ALA KHAIRIL AMAL
HAYYA 'ALA KHAIRIL AMAL
ALLAAHUAKBAR ALLAAHUAKBAR
LAA ILAAHA ILLALLAAH
LAA ILAAHA ILLALLAAH
Adapun adzan bagi Ahlus Sunnah bunyinya sebagaimana yang umum dikumandangkan di masjid-masjid yang ada di Indonesia.
Dalam tata cara shalat juga banyak perbedaan, misalnya setelah bacaan Al-Fatihah, kaum Syi’ah tidak mengucapkan “aamiin”, sedangkan Ahlus Sunnah mengucapkannya. Kaum Syi’ah meyakini jika mengucapkan “aamiin”, maka shalatnya batal. Kaum Syi’ah tidak melaksanakan shalat Jum’at, sementara kaum Ahlus Sunnah melaksanakannya. Dalam hal berumah tangga, kaum Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah (nikah kontrak jangka waktu tertentu), sementara Ahlus Sunnah mengharamkannya. Menurut paham Syi’ah, seseorang yang telah mut’ah sebanyak empat kali derajatnya sama dengan Nabi Muhammad saw. Dengan logika semacam ini, Ust. Anung menanyakan, bagaimana dengan orang yang telah mut’ah lebih dari empat kali? Mungkinkah derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad saw?
Lebih janggal lagi adalah keyakinan Syi’ah berkaitan dengan masalah penciptaan. Di dalam literatur Syi’ah disebutkan pada bab Tinah, yaitu asal penciptaan manusia, bahwa orang Syi’ah diciptakan dari tanah yang suci, dan ujungnya kemudian disebutkan akan masuk surga. Adapun selain Syi’ah, maka ia diciptakan dari tanah yang berasal dari neraka. Dosa sebesar apa pun yang dilakukan oleh orang Syi’ah nanti akan dipindahkan ke orang selain Syi’ah, dan kebaikan yang dilakukan oleh orang selain Syi’ah akan dipindahkan ke orang Syi’ah.
Kejanggalan keyakinan Syi’ah itu bahkan sampai pada masalah kain kafan. Orang Syi’ah sekrang ini sudah membuat kain kafan yang disebut “kafan Husain”. Pada kafan Husain itu dituliskan Imam Husain bin Ali. Di Jakarta kain kafan Husain ini dijual di kalangan Syi’ah dengan harga sekitar Rp250.000,00. Orang Syi’ah meyakini bahwa kalau meninggal dunia kemudian dikafani dengan kain kafan Husain, maka ketika dikubur tidak akan ditanyai oleh malaikat. Malaikat yang datang itu akan balik lagi karena melihat kain kafan Husain, dan orang yang ada di dalam kain kafan itu langsung masuk surga.
Satu hal yang perlu diwaspadai bagi kaum muslimin, menurut Ust. Anung, adalah adanya ajaran “taqiyah”. Yaitu, ajaran yang membolehkan penganut Syi’ah untuk berdusta dalam rangka menyelamatkan agamanya atau mengelabuhi musuh sehingga tidak ketahuan. Dengan ajaran ini, seorang da’i yang berpaham Syi’ah kelihatannya seperti da’i Ahlus Sunnah. Sehingga, banyak orang awam yang terkecoh dan lama-kelamaan digiring untuk mengikuti ajaran Syi’ah. Dengan cara seperti ini, jika kaum muslimin tidak waspada dan tidak mengerti, maka paham Syi’ah akan semakin banyak diikuti.
Kalau sekiranya kaum Syi’ah menjadi mayoritas dan mampu menguasai sebuah negara, apa bahayanya bagi Ahlus Sunnah? Menurut Ust. Anung, jika kaum Syi’ah sudah menguasai negara, maka yang pasti adalah kaum Ahlu Sunnah akan dibantai. Menurutnya, tidak ada tempat bagi Ahlus Sunnah jika kaum Syi’ah sudah berkuasa. Hal ini terjadi seperti di negara Iran yang dikuasai oleh Syi’ah. Di Ibu Kota Iran, Teheran, tidak satu pun masjid kaum Ahlus Sunnah boleh berdiri. Semua masjid yang dimiliki kaum Ahlus Sunnah harus dirobohkan. Para ulama Ahlus Sunnah dan pendukungnya juga tidak luput dari incaran kaum Syi’ah. Di Iran, tokoh-tokoh Ahlus Sunnah ditangkap, disiksa, dan dibunuh secara sadis.
Di Indonesia sebagian kalangan Syi’ah sudah tidak lagi menggunakan taqiyah, tetapi sudah berani menampakkan jatidirinya secara terang-terangan. Ini menunjukkan bahwa penganut Syi’ah di Indonesia sudah berani menunjukkan kekuatannya.
Sementara itu, pembicara kedua yaitu Ust. Hartono, di samping melengkapi adanya penyimpangan-penyimpangan paham Syi’ah, juga menyoroti tantangan-tantangan yang dihadapi para aktivis Islam dalam menghadapi kaum Syi’ah.
Ust. Hartono melengkapi penjelasan Ust. Anung dengan mengutip dari buku karyanya yang berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.Menurutnya, ada beberapa penyimpangan dan kesesatan Syi'ah, di antaranya:
1. Syi'ah memandang imam itu ma'sum (terbebas dari kesalahan atau dosa).
2. Syi'ah memandang bahwa menegakkan imamah atau kepemimpinan adalah rukun agama (masuk dalam rukun Islam).
3. Syi'ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh ahlul bait.
4. Syi'ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., dan Utsman r.a.
5. Syi'ah menghalalkan nikah mut'ah (nikah kontrak) yang sudah diharamkan oleh Nabi Muhammad saw.
6. Syi'ah menggunakan senjata taqiyah, yaitu berbohong dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya untuk mengelabuhi.
7. Syi'ah percaya kepada ar-raj'ah, yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum kiamat.
8. Syi'ah meyakini imam ke-12 yang sekarang keberadaannya ghaib (tidak diketahui). Imam yang ghaib itu ketika keluar dari persembunyiannya akan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya.
Berbicara tentang masalah Syi’ah, menurut Ust. Hartono, sebetulnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa, yaitu pada tahun 1984, yang isinya menjelaskan tentang perbedaan Syi’ah dengan Ahlus Sunnah. Dalam fatwa tersebut secara gamblang disebutkan: “Paham Syi’ah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni, yaitu Ahlus Sunnah wal-Jama'ah yang dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia.“ Selain itu, Departemen Agama Republik Indonesia (Depag) pada tanggal 5 Desember 1985 juga telah menjelaskan tentang Syi’ah yang isinya menegaskan bahwa Syi’ah itu paham yang sesat dan menyesatkan.
Ust. Hartono menceritakan pengalamannya ditantang ber-mubahalah(berdo'a saling melaknat bagi yang berbohong) oleh seorang Syi'ah melalui telepon. Orang itu mengaku bernama Abdullah dari Ciputat.
Dia mengatakan, “Abu Bakar itu munafik.”
Ust. Hartono menjawab, “Munafik bahasa Indonesia yang artinya misalnya tadi pura-pura nggak mau makan, kemudian ternyata makan, atau munafik secara istilah agama?"
Dia jawab: "Secara istilah agama."
Ust. Hartono menyahut, “Tidak!"
Kemudian, terjadilah saling berbantahan, dan dia menantang Ust. Hartono untuk ber-mubahalah.
Ust. Hartono: "Mubahalah perlu bertemu."
Dia jawab: "Lewat telepon saja!"
Ust. Hartono: “Kalau lewat telepon, kamu menyatakan Abu Bakar munafik dalam arti istilah agama, dalam arti kafir?"
Dia jawab: "Ya!"
Ust. Hartono: “Bukan sekadar bahasa Indonesia yang begini!"
Dia jawab: "Bukan!" Kemudian dia katakan: "Kalau begitu Anda dulu untuk menyatakan mubahalah."
Ust. Hartono: "Lho, yang mengajak siapa? Anda yang mengajak, ya Anda dulu yang harus ber-mubahalah?" Akhirnya dia mau, terus bersahadat, dan ternyata sahadatnya ditambah dengan waasyhadu ana Ali waliyullah.
Ust. Hartono menyahut: "Tidak usah, sahadat kan sahadatain, dua kalimat sahadat, asyhadu ala ilahalillalloh waasyh hadu ana muhamadurosulullah, cukup!"
Dia jawab: "Nggak, keyakinan saya ini, ya saya harus begini." kemudian dia menyatakan bahwasannya Abu Bakar itu benar-benar munafik.
Ust. Hartono kemudian bersahadat, kemudian menyatakan bahwasanya benar-benar Abu Bakar Sidik itu tidak munafik. “Siapa yang berbohong dalam mubahalah ini, maka agar Allah laknat.Alhamdulillah, saya sudah tiga-empat tahun ini alhamdulillah tidak apa-apa, tetapi saya tidak tahu dia, apakah sudah mati atau bagaimana?”
Kata Ust. Hartono, hal ini membuktikan bahwa aqidah Syi'ah yang mengafirkan sahabat itu sudah sampai di Indonesia, bahkan sudah berani menantang ber-mubahalah.
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh pemimpin di negeri kaum Syi’ah, Iran, yaitu Ahmadinejad. Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi dua hari menjelang pemilu beberapa waktu lalu, Ahmadinejad mengumpat kepada dua sahabat Rasulullah saw., yaitu Talhah r.a. dan Zubair r.a. Ia menganggap bahwa kedua sahabat itu telah kafir dan kembali kepada kepercayaan jahiliah. Atas pernyataannya itu, maka kecaman datang dari berbagai belahan dunia. Padahal, kedua sahabat ini—Zubair dan Tolhah—termasuk kelompok sahabat yang sudah dijamin oleh Rasulullah saw. yang akan masuk surga.
Ahmadinejad memang politisi yang piawai di depan umum. Penampilannya yang tidak berdasi memperlihatkan kesederhanaan hidupnya. Dalam orasi-orasi politiknya sering memperlihatkan betapa beraninya dia terhadap negara adidaya Amerika Serikat (AS). Retorikanya menentang standar ganda kebijakan AS membuat masyarakat dunia—yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya—terkagum-kagum. Tak heran jika media massa selalu membanggakan sosok yang satu ini. Padahal, dia berpaham Syi’ah yang telah terbukti menjelek-jelekkan sahabat Nabi saw.
Selanjutnya, Ust. Hartono memperlihatkan kepada hadirin satu buku terjemahan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI). Buku itu berisi daftar para ulama Ahlus Sunnah di Iran yang disembelih dan masjid-masjid yang dirobohkan oleh orang-orang Syi’ah. Buku itu memperlihatkan betapa kejamnya orang-orang Syi’ah kepada Ahlus Sunnah.
Sejarah masa lalu juga telah menunjukkan bukti kekejaman kaum Syi'ah terhadap Ahlus Sunnah. Pada masa pemerintahan Abasiah, Al-Mu’tasim Billah, di Baghdad pada tahun 656 H, dua orang pejabat menteri yang berpaham Syi’ah—Ibnul ‘Alqami dan Nashirudin Ath-Thusi—membantu panglima Tar-Tar (pasukan mongol) untuk masuk dan menyerang kota Baghdad, sehingga tidak kurang dari 20.000 tentara Tar-Tar berhasil membantai ratusan ribu kaum muslimin bahkan tanpa tersisa, kecuali orang-orang Yahudi dan Nasrani. Selain itu, mereka juga membakar perpustakaan-perpustakaan yang ada hingga Sungai Dajlah, Sungai Tigris, dan Sungai Eufrat selama berhari-hari airnya menghitam. Akhirnya, kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah hancur berkeping-keping.
Pengalaman sejarah yang kelam ini seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi kaum muslimin Ahlus Sunnah. Tetapi, sayangnya pengalaman pahit itu seolah sudah dilupakan, setidaknya oleh beberapa tokoh terkemuka dari dua organisasi terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) belakangan ini. Sikap tokoh-tokoh terkemuka tersebut sangat menguntungkan bagi pergerakan Syi’ah. Sehingga, bukannya berperan di baris depan untuk menghadang gerakan Syi’ah, malahan menjadi tameng bagi kaum Syi’ah untuk menghadapi penolakan dari kaum Ahlus Sunnah.
Pada tahun 1997 di masjid Istiqlal Jakarta diadakan seminar tentang Syi'ah. Seminar yang dibuka oleh KH Hasan Basri, ketua MUI saat itu, mendapatkan komentar miring dari Wakil Khatib Syuriah PBNU KH Said Agil Siraj. Ia pasang badan menghadapi serangan terhadap Syi'ah. Ia mengatakan saat menjadi pembicara dalam acara do'a kumel (do'a-nya orang Syi'ah), "Tak perlu ulama Syi'ah turun tangan, cukup saya dan Gus Dur dari NU, Cak Nur (Nurkholis Majid), MH Ainun Najib, Pak Amin Rais dari Muhamadiyah yang melakukan pembelaan.” Gus Dur juga melontarkan tanggapan yang keras. Ia menyebut seminar tadi kurang kerjaan. Gus Dur siap menggelar demonstrasi jika Syi’ah dilarang. Ketua PP Muhammadiyah Dinsyamsudin juga menolak usulan ormas-ormas Islam agar pemerintah melarang keberadaan paham Syi’ah di Indonesia. Hal yang sama dilakukan oleh Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi. Ia menyalahkan orang-orang NU di daerah, seperti di Pasuruan dan Bangil, yang memprotes keras keberadaan Syi’ah.
Sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh beberapa tokoh tersebut sangat jauh berbeda dengan yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu mereka. Seharusnya para yunior itu meneladani sikap terpuji yang telah dilakukan oleh para seniornya. Dulu KH Irfan Zidni dari PBNU dan KH Dawam Anwar dari Wakil Khatib Syuriah NU sangat menentang Syi'ah. KH Dawam Anwar pernah menyatakan, ketika kita membaca sejarah, maka orang Syi'ah sampai dibakar oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Mengapa sampai dibakar, karena orang Syi'ah mengatakan kepada Ali: “Anta-Anta”, artinya adalah “Engkau-Engkau”, maksudnya adalah bersifat Tuhan. Maka, mereka dihukum mati dengan cara dibakar.
Akibat dari sikap sebagian para tokoh terkemuka yang membela Syi’ah, maka Syi’ah dengan mudah dapat menerobos ke tempat-tempat yang strategis. Sekarang ini telah didirikan sebanyak 12 Iranian Counter di seluruh Indonesia. Irian Counter ini didirikan oleh Iran di perguruan-perguruan tinggi Islam. Sebagai contoh adalah Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dan alhamdulillah, ternyata sudah dimusnakah oleh Allah waktu banjir Situ Gintung tahun 2009. Kejadian itu memusnahkan Iranian Counter di UMJ. Selain di perguruan tinggi Islam, Irian Counter juga telah didirikan di kantor pusat PBNU Kramat Raya di lantai lima. Menurut keterangan di situs resmi NU (www.nu.org), di dalam Iranian Counter tersebut terdapat tidak kurang dari 500 buah buku dari Iran.
Strategi Syi’ah di dalam menghancurkan kaum Ahlus Sunnah di Indonesia juga terlihat semakin bervariasi. Hal itu terlihat setelah ditangkapnya para pendatang dari Iran yang menyelundupkan narkoba. Modus baru kaum Syi’ah seperti ini perlu diwaspadai oleh kaum muslimin. Dengan demikian, serangan orang-orang Syi’ah sekarang ini mengandung dua hal yang sangat membahayakan, yaitu serangan yang membahayakan aqidah berupa penyebaran ajaran Syi’ah, dan serangan yang membahayakan jiwa dan raga berupa penyelundupan narkoba. Jika kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak siap siaga menghadapi serangan kaum Syi’ah, maka tunggulah saat yang menentukan itu tiba: kaum Syi’ah yang akan membantai kaum muslimin Ahlus Sunnah atau Ahlus Sunnah yang akan memberantas kesesatan kaum Syi’ah?.
Pada Selasa, Februari 09, 2010

Monday, January 25, 2010

Pojok Ardian Husaini "Masalah Kata ”Allah” di Malaysia dan Indonesia"

Pengantar: Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sekarang menyita banyak perhatian masyarakat internasional. Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun, sejumlah media massa menurunkan berita dan opini seputar masalah ini. Sejumlah pihak mengirimi saya beberapa berita dan opini melalui emel dan meminta tanggapan. Untuk sedikit menjernihkan masalah ini, berikut ini saya turunkan tulisan, yang – karena agak panjang – saya bagi menjadi tiga serial Catatan Akhir Pekan (CAP) ke-277, 278, dan 279). Sebagian data di sini sudah pernah kita sajikan dalam CAP-CAP sebelumnya. Untuk memudahkan pemahaman, data itu kita ungkapkan lagi, diramu dengan berbagai data baru yang penulis temukan. .

Kasus “penggunaan kata Allah” di Malaysia rupanya masih belum berujung. Kasus yang sudah bermula tahun 2007 ini kembali memanas setelah Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 membenarkan penggunaan kata ''Allah'', sebagai pengganti kata Tuhan, oleh surat kabar Katholik Herald-The Catholic Weekly terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia.

Alkisah, kaum Muslim di Malaysia, diwakili pemerintah Malaysia, berkeberatan dengan keputusan tersebut dan mengajukan Banding ke peradilan yang lebih tinggi. Di Malaysia, masalah ini memang sangat menyita perhatian publik. Pada 1 April 2009 lalu, saya sempat menghadiri sebuah seminar tentang kontroversi penggunaan kata Allah bagi Majalah Katolik ini di Kuala Lumpur. Bagi kaum Muslim dan pemerintah Malaysia, pelarangan penggunaan nama Allah bagi kaum non-Muslim memang memiliki dasar hukum yang kuat. Sebab, di hampir seluruh negara bagian di Malaysia, memang ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim menggunakan sejumlah istilah khas dalam Islam, seperti Allah, Baitullah, Rasulullah, dan sebagainya.
Di Malaysia, Islam adalah “agama resmi negara” (agama Persekutuan). Kaum non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum Muslim. Sebab, sesuai konstitusi Malaysia, salah satu tugas pemerintah adalah melindungi aqidah Islam. Di Malaysia, istilah Melayu identik dengan Islam. (Sebaliknya, di Indonesia, banyak yang memahami istilah “Melayu” identik dengan “lagu dangdut”). Kamus Dewan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1989, juga menegaskan keidentikan antara Islam dengan Melayu. Disebutkan, bahawa istilah “masuk Melayu” mempunyai dua erti, yaitu (1) mengikut cara hidup orang-orang Melayu dan (2) masuk Islam. Menyadari pentingnya kedudukan akidah Islam untuk menjaga ketahanan masyarakat Malaysia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) – satu institusi Islam resmi di bawah pemerintah Melaysia -- menyatakan:
"Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu dan terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-undang semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi Malaysia". (Lihat, http://www.islam.gov.my/e-rujukan/islammas.html).

Jadi, dalam soal kenegaraan, Malaysia memang beda dengan Indonesia. Meskipun jumlah umat Muslim hanya sekitar 60 persen, Malaysia dengan tegas menyatakan dirinya sebagai kelanjutan Kerajaan-kerajaan Melayu Islam, dan Islam ditempatkan dalam konstitusi negara sebagai agama negara (agama Persekutuan). Dalam kaitan inilah, pemerintah Malaysia melarang penggunaan kata "Allah" untuk penerbitan buku dan referensi kaum non-Muslim di negara itu. Malaysia juga pernah menyita belasan ribu kitab suci umat Kristen, Alkitab, yang diimpor dari Indonesia yang menggunakan kata "Allah."

Majalah Katolik Herald edisi bahasa Inggris memang tidak menggunakan kata Allah. Tapi, kata Allah mereka gunakan untuk edisi bahasa Melayu. Karena itulah, kaum Muslim di Malaysia melihat, ini salah satu indikasi jelas, bahwa ada tujuan ”misi Kristen” dibalik penggunaan kata Allah tersebut. Tapi, kaum Katolik di Malaysia berkeberatan dengan larangan pemerintah atas penggunaan kata "Allah" di media mereka. Gugatan kaum Katolik ini kemudian dikabulkan oleh pengadilan. Hanya saja, pada 4 Januari 2010, pemerintah Malaysia mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tinggi itu. Pemerintah juga meminta agar putusan pengadilan itu ditangguhkan, sampai muncul putusan atas banding itu.

Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia ini telah menyita perhatian dunia internasional. Pelarangan penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun 1980-an. Sejumlah media di Indonesia – baik cetak maupun elektronik – pun ikut menyiarkan berita di Malaysia tersebut. Apalagi, menyusul keputusan Pengadilan Tinggi, terjadilah penyerangan terhadap sejumlah Geraja di Malaysia. Ditengarai, serangan itu dilakukan akibat marahnya sebagian kaum Muslim atas keputusan tersebut.

Sikap umat Islam di Malaysia sendiri terbelah. Jika pemerintah Malaysia – yang didominasi Partai UMNO -- melarang penggunaan kata Allah oleh kaum Kristen, sikap sebaliknya ditunjukkan oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS). Partai yang sering dikategorikan sebagai ”partai Islam” ini justru menyatakan tidak keberatan dengan penggunaan kata "Allah" sebagai alternatif kata Tuhan untuk kalangan non-Muslim. Menurut PAS, kata Allah bisa digunakan oleh para penganut agama keturunan Nabi Ibrahim - yang dikenal oleh umat Nasrani dan Yudaisme sebagai Abraham. Harian yang terbit di Malaysia, The Star, melaporkan adanya pertemuan Dewan Pimpinan PAS, pada 4 Januari 2010, yang menghasilkan keputusan tersebut. Presiden PAS, Hadi Awang, menyatakan, bahwa penggunaan kata Allah di luar non-Muslim ada syaratnya, yakni kata ”Allah” tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan yang bisa mengganggu kerukunan beragama di Malaysia.

Bagi saya yang beberapa tahun tinggal di Malaysia dan pernah cukup intens mengikuti pergumulan politik di Malaysia melalui media massa, sikap PAS itu bisa dipahami sangat kental nuansa politisnya. Konflik PAS dan UMNO seperti sudah mendarah daging. Bagi kita, kaum Musim Indonesia, tentu sangat heran, mengapa kedua partai yang sama-sama berbasis Melayu ini tidak bisa bersatu dalam pandangan dan sikapnya dalam hal-hal yang bersifat keagamaan, dan melupakan pandangan politis mereka. Namun, kita juga bisa memahami, jika melihat kondisi serupa yang terjadi pada sejumlah partai Islam di Indonesia. Kadangkala, sebagai orang yang berada di luar partai, kita mengharapkan, agar partai-partai Islam itu dapat bersatu untuk sama-sama memperjuangkan aspirasi Islam. Tapi, itulah realitasnya; baik di Malaysia atau pun di Indonesia.

Pernyataan PAS yang menyatakan, bahwa agama Yahudi dan Kristen adalah pelanjut agama Ibrahim pun lebih bertendensi politis dan sosiologis. Secara aqidah, menurut Islam, jelas Islam menolak klaim Yahudi dan Kristen bahwa mereka adalah pelanjut agama Ibrahim a.s. Seorang Muslim, yang berpikir dalam perspektif Islamic worldview, akan sangat yakin, bahwa ’agama Ibrahim’ adalah agama Tauhid. Dan sebab itu, hanya Islamlah yang konsisten melanjutkan ajaran Tauhid Nabi Ibrahim.

Al-Quran menjelaskan: “Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif.” (QS 4:125). “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).

Meskipun Yudaisme adalah agama yang ber-Tuhan satu (monoteis), tetapi kaum Muslim meyakini bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen). Menurut Al Quran, orang-orang Yahudi dan Nasrani telah mengubah-ubah kitab yang diturunkan Allah, menyembunyikan kebenaran, dan menulis kitab menurut keinginan dan hawa nafsu mereka sendiri.

"Sebagian dari orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya." (An Nisa: 46). "Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman karena seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu mengubahnya sesudah mereka memahaminya,s edangkan mereka mengetahuinya." (al-Baqarah:75). "Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: "Ini adalah dari Allah." (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat tindakan mereka. (al-Baqarah:79)


Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme belum tentu sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, disertai unsur ikhlas dan rela diatur oleh Allah SWT. Maka, syahadat Islam berbunyi “Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Syahadat Islam bukan berbunyi: “Tidak ada tuhan selain Tuhan”, juga bukan “Tidak ada tuhan selain Yahweh”. Karena itu, jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak bisa disebut ‘bertauhid’. Iblis pun tidak bisa dikatakan bertauhid, tetapi disebut kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia tahu bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Dalam perspektif seorang Muslim yang memegang teguh Islamic worldview, memasukkan agama Yahudi sebagai pelanjut agama Ibrahim, adalah pernyataan yang sangat bermasalah. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.”

Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi dan Kristen kehilangan jejak kenabian dan Tauhid. Dalam pandangan Islam, kaum Yahudi telah kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Ini juga ditulis oleh Th.C.Vriezen, dalam buku ”Agama Israel Kuno” (Jakarta: BPK, 2001):

“Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.”


Jadi, dalam pandangan Islam, Yudaisme (agama Yahudi) bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. Tetapi, Yudaisme adalah agama yang menyeleweng dari agamanya dari Musa a.s. CM Pilkington, dalam Judaism, menulis: “It was in the 1880’s that the term ‘Judaism’ became widely used and this bacause social and political emancipation then made it necessary for Jews to work out for non-Jews...” Juga disebutkan, “Judaism is the religion of the Jewish people, upon whom its faith and obligations are binding. The relationship between God and the people of Israel is fundamental.” Siapakah yang disebut Yahudi? “According to Jewish Law, as codified in the Talmud and defined by rabbis from late antiquity to the present day, a Jew is a person who is born of a Jewish mother or has been converted to Judaism.” Louis Jacobs, seorang teolog Yahudi merumuskan: “A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism.” (Pilkington, Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003)).

Bagi kaum Musim, maka persoalan paling serius dalam Yudaism adalah penolakan mereka terhadap kenabian Muhammad saw. Nabi Isa a.s. pernah mengajak kaumnya (bangsa Yahudi) agar mengimani kenabian Muhammad saw:

“Dan ingatlah ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab yang turun sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka, tatkala Rasul itu datang kepada mereka, dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS ash-Shaf:6).


Berbeda dengan konsep Yahudi, Islam sangat menekankan bahwa karunia Allah kepada bangsa Yahudi dikaitkan dengan ketaatan atas perjanjian mereka dengan Allah. Islam tidak mengakui sama sekali adanya konsep yang menyatakan Yahudi sebagai bangsa pilihan dan mendapat karunia sampai kapan pun, tanpa memandang, apakah mereka taat atau tidak kepada Allah. (QS 2:85). Dalam sejumlah ayat Bible memang disebutkan Israel sebagai anak Tuhan “son of God”. Kitab Keluaran 4:22-24 menyatakan: “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung. Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, Tuhan bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.”

Tetapi, al-Quran menyebutkan, kaum Yahudi adalah bangsa yang sangat rasialis. Allah SWT berfirman (yang terjemahnya): “Katakanlah: hai orang-orang Yahudi, jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu saja yang merupakan kekasih Allah, bukan manusia-manusia lainnya, maka harapkanlah kematian, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS 62: 6).

Dengan klaim sebagai pelanjut keturunan Ibrahim yang sah itulah, kaum Yahudi menggunakan haknya untuk mengusir bangsa Palestina dari negeri mereka. Bahkan, sebagian kelompok, seperti pengikut Meir Kahane, memperbolehkan digunakannya tindak kekerasan untuk mengusir bangsa non-Yahudi dari Palestina. Salah seorang pengikut aliran ini, Yigal Amir, pernah membunuh Yitzak Rabin karena menegosiasikan Tanah yang dijanjikan Tuhan itu (the promised land) dengan bangsa non-Yahudi.

Sikap rasialis Yahudi yang mengklaim sebagai pewaris darah Ibrahim yang sah ini telah dikecam oleh dunia internasional. Resolusi Majelis Umum PBB, No 3379, 10-11- 1975 menyatakan: "Zionisme adalah sebentuk rasisme dan diskriminasi rasial." Konferensi Asia-Afrika Bandung, Indonesia, 1955, menyebut Zionisme sebagai: “the last chapter in the book of old colonialism, and the one of the blackest and darkest chapter in human history". Tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Dr. Roeslan Abdulgani juga mencatat: "Zionisme boleh dikatakan sebagai kolonialisme yang paling jahat dalam jaman modern sekarang ini. Ia berbau rasialisme.” Kritikan keras terhadap rasialis kaum Yahudi juga diberikan oleh cendekiawan terkenal Israel, Prof. Israel Shahak. Dalam bukunya, Jewish History, Jewish Religion, Shahak menulis: “In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond.”

Karena itulah, Islam mengecam keras klaim rasialis Yahudi. Kaum Muslim mengikatkan diri dengan Ibrahim a.s., hanya mendasarkan diri pada garis keimanan, bukan “garis darah”. Maka, dalam perspektif keimanan Islam, hanya Islamlah agama yang menjadi pelanjut agama Ibrahim a.s. yang sah. Sebab, hanya Islam yang mengakui garis kenabian dari Ibrahim a.s. sampai kepada Nabi Muhammad saw.
Karena itu, dalam pandangan Islam, agama Yahudi (Yudaisme) saat ini bukanlah pelanjut yang absah dari agama Ibrahim a.s. Begitu juga dengan agama Kristen. Dalam pandangan Islam, agama Kristen saat ini adalah agama yang menyimpang dari agama Nabi Isa a.s. Sebab, sama dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw.

Sebagai agama wahyu (agama samawi) yang bersumberkan pada wahyu yang bersifat universal dan final, posisi Islam terhadap agama lain bersifat final dan tidak mengikuti dinamika sejarah. Setelah wahyu Allah SWT sempurna diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka Allah menegaskan, bahwa ”Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS 5:3).

Ayat tersebut secara tegas menyebutkan, bahwa ”Islam” adalah agama yang diridhai oleh Allah. Dan kata ”Islam” dalam ayat ini adalah menunjuk kepada nama agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, secara tegas, nama agama ini diberi nama ”Islam” setelah sempurna diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Para pengikut nabi-nabi sebelumnya diberi sebutan sebagai ”muslimun”, tetapi nama agama para nabi sebelumnya, tidak secara tegas diberi nama ”Islam”, sebagaimana agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Meskipun, semua agama yang dibawa oleh para nabi mengandung inti ajaran yang sama, yakni ajaran Tauhid.

Namun, agama-agama para nabi sebelumnya, saat ini sudah sulit dipastikan keotentikannya, karena kitab mereka sudah mengalami tahrif (perubahan-perubahan) dari pemeluknya. (QS 2:59, 75, 79). Karena itulah, menurut Islam, harusnya pengikut para nabi sebelumnya, seperti kaum Yahudi dan Nasrani, juga mengimani Muhammad sebagai nabi Allah SWT. Rasulullah saw bersabda: “Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)

Karakter Islam
Karena Islam memelihara kontinuitas kenabian, maka dalam pandangan Islam, Islam adalah satu-satunya agama yang memelihara kontinuitas wahyu. Karena itu, Islam bisa dikatakan sebagai satu-satunya agama wahyu, dan satu-satunya agama yang memiliki ritual yang universal, final, dan otentik. Ini disebabkan Islam memiliki teladan (model) yang final sepanjang zaman. Sifat otentisitas dan universalitas Islam masih terpelihara hingga kini. Meskipun zaman berganti, ritual dalam Islam tidak berubah. Shalatnya orang Islam di mana pun sama. Tidak pandang waktu dan tempat. (Tentang konsep Islam sebagai “true submission”, lihat disertasi Dr. Fatimah Bt. Abdillah di ISTAC, Kuala Lumpur, yang berjudul An Analysis of the Concept of Islam as “True Submission” on the Basis of Al-Attas Approach, 1998).

Sebagai agama wahyu, Islam memiliki berbagai karakter khas. Pertama, diantara agama-agama yang ada, Islam adalah agama yang namanya secara khusus disebutkan dalam Kitab Sucinya. Nama agama-agama selain Islam diberikan oleh para pengamat keagamaan atau oleh manusia, seperti agama Yahudi (Judaisme), agama Katolik (Katolikisme), agama Protestan (Protestantisme), agama Budha (Budhisme), agama Hindu (Hinduisme), agama Konghucu (Konfusianisme), dan sebagainya. Sedangkan Islam tidaklah demikian. Nama Islam, sebagai nama sebuah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd saw, sudah disebutkan ada dalam a-Quran:

"Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam." (QS 3:19). "Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan akan diterima dan di akhirat nanti akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS 3:85).


Tentang nama Islam sebagai nama agama, cendekiawan besar dari Malaysia Syed Muhammad Naquib al-Attas mencatat dalam bukunya, Prolegomena to The Metaphysics of Islam: “There is only one genuine revealed religion, and its name is given as Islam, and the people who follow this religion are praised by God as the best among mankind… Islam, then, is not merely a verbal noun signifying ‘submission’; it is also the name of particular religion descriptive of true submission, as well as the definition of religion: submission to God.”

Demikianlah posisi teologis Islam. Posisi ini tentu saja berbeda dengan posisi teologis Yahudi dan Kristen. Perbedaan ini harus diakui dan dihormati. Bagaimana pun, kaum Yahudi dan Kristen tidak menerima konsep kenabian Muhammad sebagai utusan Allah yang terakhir. Dengan kata lain, dalam pandangan Yahudi dan Kristen, Muhammad saw bukanlah seorang nabi, tetapi seorang pembohong. Dr. Abraham Geiger (m. 1871), salah satu tokoh Yahudi yang menjadi perintis studi al-Quran di Barat, menulis sebuah buku berjudul What did Muhammad Borrow from Judaism? Pada posisinya sebagai Yahudi, ia menuduh Nabi Muhammad saw telah menjiplak Bibel dan tradisi ritual Yahudi. Geiger menulis: “Muhammad like the rabbis prescribes the standing position for prayer.”

Kaum Muslim dilarang memaksakan keimanan dan keyakinan mereka kepada kaum Yahudi dan Kristen serta pemeluk agama mana pun. Sebab, telah jelas mana yang benar dan mana yang salah. (QS 2:256). Karena itu, sejak awal kehadirannya, Islam sudah diperintahkan mengakui dan menghormati keyakinan agama lain. Tetapi pada saat yang sama, kaum Muslim juga diperintahkan, agar memproklamasikan dirinya sebagai Muslim: Isyhaduu bi-anna Muslimun. (Saksikanlah bahwa kami adalah Muslim). Seorang anak yang Muslim tetap wajib menghormati kedua orang tuanya, meskipun mereka belum memeluk Islam. Rasulullah juga membangun hubungan baik dengan tetangganya yang Yahudi.

Jadi, menurut Islam, sangatlah tidak benar, jika problem politik dan sosial sampai mengubah konsep teologis kaum Muslim terhadap agama lain. Berbeda dengan kaum Pluralis agama yang berjuang untuk menggerus keyakinan tiap agama – digantikan dengan konsep global theology – Islam memandang kerukunan umat beragama harus dibangun di atas dasar penghormatan kepada keyakinan masing-masing agama. Karena ada perbedaan itulah, maka ada dialog dan diskusi. Karena ada perbedaan itulah ada dinamika hidup dan upaya membangun saling pengertian dan kerukunan. Bukan justru merusak keyakinan masing-masing agama untuk dibawa kepada satu agama baru bernama ”Pluralisme Agama”. (Bersambung).

Thursday, January 14, 2010

Jangan Nodai Keagungan Jihad


Jihad, sebagai bagian dari ajaran syariah Islam memang kerap kali mendapatkan serangan dan tuduhan dari musuh-musuh Islam. Seringkali jihad diidentikkan dengan aksi-aksi terorisme. Akibatnya, Islam digambarkan menjadi sebuah agama yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman. Untuk itulah perlu dilakukan upaya pelurusan terhadap makna jihad. Ini dimaksudkan agar keagungan ajaran jihad tidak ternodai dan supaya umat Islam, termasuk para ulamanya tidak terjebak pada stigma-stigma negatif yang dilancarkan oleh musuh-musuhnya.

Jihad dalam Islam

Sebagaimana shalat, zakat, haji dan ibadah lainnya, jihad adalah bagian dari ajaran Islam. Jihad bahkan termasuk di antara kewajiban dalam Islam yang sangat agung, yang menjadi 'mercusuar' Islam.

Secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhîth, kata ja-ha-da.) Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An-Naysaburi, Tafsîr an-Naysâbûrî, XI/126).

Adapun dalam pengertian syar‘î (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut dengan jihad. (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, Hâsyiyah Ibn Abidin, III/336).


Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. (Lihat Muhammad Husain Haikal, Al-Jihâd wa al-Qitâl. I/12). Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa' 4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4). Bahkan jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang pelakunya akan meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat. (Lihat, misalnya: QS an-Nisaa’ [4]: 95; QS an-Nisa’ [4]: 95; QS at-Taubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS al-Hujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah mencela dan mengancam orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]: 38-39; QS al-Anfal [8]: 15-16; QS at-Taubah [9]: 24).

Pertanyaannya adalah, kapan dan dimana jihad dalam pengertian perang itu dilakukan? Pertama: manakala kaum Muslimin atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina yang dijajah Israel. Inilah yang disebut dengan jihad defensif (difâ‘î). Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim (lihat QS. Al Baqarah [2]: 190).

Kedua: manakala ada sekelompok komunitas Muslim yang diperangi oleh orang-orang atau negara kafir. Kaum Muslim wajib menolong mereka. Sebab, kaum Muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Karena itu, serangan atas sebagian kaum Muslim pada hakikatnya merupakan serangan terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu pula, upaya membela kaum Muslim di Afganistan, Irak atau Palestina, misalnya, merupakan kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia (lihat QS al-Anfal [8]: 72).

Ketiga: manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Daulah Islam (Khilafah) dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah adalah seruan pemikiran, non fisik. Manakala dihalangi secara fisik, wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan rintangan-rintangan fisik yang ada di hadapannya di bawah pimpinan khalifah. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (hujûmî). Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi tegaknya kalimat-kalimat Allah.

Dengan jihad ofensif itulah Islam tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam penyebaran dakwah Islam oleh negara (Daulah Islam) (lihat QS al-Baqarah [2]: 193).

Keagungan Jihad Tak Boleh Dinodai

Sebagaimana paparan di atas, jihad adalah amal yang agung. Imam an-Nawawi, dalam Riyâdh ash-Shâlihîn, membuat bab khusus tentang jihad. Beliau antara lain mengutip sabda Nabi saw., sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Hurairah: Rasulullah saw. pernah ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Jawab Nabi, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau diitanya lagi, "Kemudian apa?" Jawab Nabi, "Perang di jalan Allah." Beliau ditanya lagi, "Kemudian apa?" Jawab Nabi, "Haji mabrur." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa dalam hadis tersebut (atau yang serupa) perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) adalah amal yang paling utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 5/149).

Karena itu, sudah selayaknya kaum Muslim menjaga keagungan jihad ini dari siapapun yang berusaha menodai dan merendahkannya, baik karena ketadaktahuannya, ataupun karena kedengkiannya (seperti yang dilakukan Barat kafir penjajah) terhadap aktivitas jihad. Sebab, di samping makna jihad telah diterapkan dengan kurang tepat, keagungan jihad juga telah sengaja direndahkan oleh Barat kafir imperialis. Barat, misalnya, telah lama menyebut Islam sebagai agama 'barbarian' hanya karena mengajarkan jihad.

Presiden Bush bahkan menyebut Islam sebagai agama radikal dan fasis, sementara mantan PM Inggris Blair menjuluki Islam sebagai 'ideologi Iblis'; juga antara lain karena faktor jihad. Colin Powell saat menjadi menteri luar negeri AS juga pernah mengatakan, "Jika mereka hanya mengirim generasi muda ke madrasah, sekolah itu tidak melakukan apa-apa, tetapi mengindoktrinasi mereka dalam aspek-aspek buruk. Mengajarkan kebencian tidak akan membawa perdamaian bagi kita semua di kawasan ini.” (Media Indonesia, 23/1/2004).

Mengapa demikian? Semua itu tidak lain sebagai bentuk propaganda mereka agar kaum Muslim menjauhi aktivitas jihad. Sebab, bagaimanapun Barat menyadari bahwa jihad adalah ancaman tersebar bagi keberlangsungan mereka atas Dunia Islam. Karena itu, Barat bahkan berusaha agar jihad dihilangkan dari ajaran Islam. Hal itu antara lain diwujudkan dengan upaya Barat untuk memaksakan kurikulum pendidikan sekuler ke madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, atau lembaga-lembaga pendidikan Islam karena selama ini lembaga-lembaga tersebut dianggap mengajarkan kekerasan dan memproduksi 'para teroris'.

Walhasil, kaum muslimin harus mewaspadai setiap upaya dari Barat kafir penjajah yang berusaha memanipulasi bahkan menghapuskan ajaran dan hukum jihad dari Islam demi kepentingan politik mereka. Oleh karena itu wajib bagi para ulama untuk tetap dan terus mengajarkan ajaran jihad serta menyerukannya kepada umat untuk mempersiapkannya. Wallahu A’lam Bi Shawab.