millahibrahim_1

You Tube

Berita

Sunday, November 22, 2009

Nikmat Dinul Islam Hanya Diberikan Kepada Hamba Allah Yang Dipilih Olehnya


Bismillahirohmanirrohim
Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Kajian taklim bulanan ustadz “Abu Bakar Ba’asyir”, pada tanggal 1 November 2009 di masjid “Muhammad Ramadhan” dalam pembahasan “Dinul Islam”, telah membuka mata hati kita sebagai manusia untuk bisa menyikapi apa makna sesungguhnya Dinul Islam tersebut.

Dalam pembahasan tersebut Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menguraikan materi tersebut menjadi beberapa bagian pokok bahasan dari materi Dinul Islam tersebut, diantaranya :

“Nikmat Dinul Islam Hanya Diberikan Kepada Hamba Allah Yang Dipilih Olehnya”

Dinul islam tidak diwariskan kepada seluruh umat manusia dan jin, tetapi hanya diwariskan kepada hamba Allah SWT(manusia dan jin) yang dipilih dan di saring / filter oleh Allah SWT. Adapun nikmat Dinul Islam diberikan Allah hanya kepada kaum Muslimin yang dengan ikhlas mengamalkan syari’at Nya dan merupakan umat terbaik dan tertinggi derajatnya. Firman Allah SWT:

“KAMU (KAUM MUSLIMIN) ADALAH UMAT YANG TERBAIK yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah…”(Ali Imran:110)

“Janganlah kamu bersikaf lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, PADAHAL KAMULAH ORANG ORANG YANG PALING TINGGI DERAJATNYA, JIKA KAMU ORANG ORANG YANG BERIMAN”(Ali Imran: 139)

Pada kenyataan kehidupan di dunia ini umat islam terbagi dalam tiga kelompok yang dapat dinilai dari segi amalnya:

Kelompok Pertama : Kaum muslimin yang kurang menyukuri nikmat Dinul Islam, sehingga masih banyak perkara perkara wajib yang mereka tinggalkan dan perkara perkara haram yang mereka langgar/amalkan. Golongan ini dinamakan :Dholimun Linafsihi, yakni golongan yang menganiaya dirinya.

Kelompok Kedua : Kaum muslimin yang mensyukuri nikmat Dinul Islam dengan mengamalkan semua yang wajib dan meninggalkan semua yang haram, tetapi beberapa amalan sunnah masih ada yang ditinggalkan dan beberapa amalan makruh masih ada yang diamalkan. Golongan ini dinamakan : Muqtashid, yakni yang pertengahan.

Kelompok Ketiga : Kaum muslimin yang mensyukuri nikmat Dinul Islam dengan mengamalkan semua yang wajib dan Sunnah diamalkan dengan sempurna dan meninggalkan semua yang haram dan makruh denga sempurna, Golongan ini adalah golongan yang tertinggi yang dinamakan : Saabiqun bil khoiroot biidznillah, yakni yang selalu terdepan berbuat kebaikan dengan izin Allah SWT. Firman Allah SWT :

“Kemudian kitab itu KAMI WARISKAN KEPADA ORANG ORANG YANG KAMI PILIH DIANTARA HAMBA HAMBA KAMI, lalu diantara mereka ADA YANG MENGANIAYA DIRI MEREKA SENDIRI DAN DI ANTARA MEREKA ADA YANG PERTENGAHAN DAN DIANTARA MEREKA ADAPULA YANG LEBIH DAHULU BERBUAT KEBAIKAN DENGAN IZIN ALLAH. Demikian itu adalah karunia yang amat besar.”(Fathir: 32)

Sabda Rasulullah SAW :

“Sesungguhnya Allah SWT telah membagi diantara kamu sekalian akhlak kamu sekalian sebagimana Dia telah membagi diantara kamu rizki kamu. Dan sesungguhnya Allah telah memberi nikmat dunia kepada siapa yang dia sukai dan kepada siapa yang tidak Dia sukai. DIA TIDAK MEMBERI AD DIN (PETUNJUK AL QURAN DAN AS SUNNAH) KECUALI HANYA KEPADA SIAPA YANG DISUKAINYA. MAKA BARANG SIAPA YANG DIBERI AD DIN (ISLAM) OLEH ALLAH SWT MAKA SESUNGGUHNYA ALLAH TELAH MENYUKAINYA”(HR. Ahmad)

Ayat ayat dan Hadist diatas menunjukan bahwa Dinul Islam adalah nikmat tertinggi nilainya di sisi Allah dan sangat penting fungsinya dalam mengelola kehidupan hambanya di dunia. Nikmat inilah yang patut kita syukuri sebagai anugrah yang diberikan Allah SWT kepada hambanya yang benar benar ikhlas menjalankan Syari’at Allah SWT, serta patut bagi kita untuk bergembira dengan nikmat Dinul Islam karena nikmat Dinul Islam lebih baik dari nikmat nikmat yang lainya di dunia ini (harta dan yang lain lainya). Firman Allah SWT :

“Hai manusia, Sesungguhnya telah dating kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit penyakit (yang berada dalam Hati)dan petunjuk serta rahmat bagi orang orang yang beriman. KATAKANLAH: “DENGAN KARUNIA ALLAH DAN RAHMATNYA (AL QURAN DAN AS SUNNAH) HENDAKLAH DENGAN ITU MEREKA BERGEMBIRA. KARUNIA DAN RAHMATNYA ITU ADALAH LEBIH BAIK DARI APA YANG MEREKA KUMPULKAN” (Yunus: 57-58)”

Ayat tersebut menerangkan dengan jelas bahwa Allah SWT telah menurunkan nikmat, yakni Al Quran Karim SWT telah menurunkan nikmat, Yakni Al Quran Karim (Dinul Islam) yang berfungsi sebagai obat penyakit dalam dada yakni penyakit bathin kekafiran, kemusyrikan, kebodohan tentang Haq dan Bathil, Kerusakan akhlak dan kegelapan jiwa. Di samping itu juga berfungsi sebagai petunjuk kepada jalan yang benar dan menyelamatkan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Ini semua merupakn rahmat yang tertinggi nilainya dari Allah SWT.

Nikmat Dinul Islam, Nilai Dan Sifatnya


Bismillahirohmanirrohim
Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Kajian taklim bulanan ustadz “Abu Bakar Ba’asyir”, pada tanggal 1 November 2009 di masjid “Muhammad Ramadhan” dalam pembahasan “Dinul Islam”, telah membuka mati hati kita sebagai manusia untuk bisa menyikapi apa makna sesungguhnya Dinul Islam tersebut.

Dalam pembahasan tersebut Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menguraikan materi tersebut menjadi beberapa bagian pokok bahasan dari materi Dinul Islam tersebut, diantaranya :

“Nikmat Dinul Islam, Nilai Dan Sifatnya”
“Nikmat Dinul Islam Hanya Diberikan Kepada Hamba Allah Yang Dipilih Olehnya”

Dinul islam merupakan nikmat yang paling besar dan tertinggi yang diberikan Allah SWT kepada hambanya dan merupakan nikmat yang terpenting fungsinya dalam mengelola kehidupan di dunia ini. Ia merupakan nikmat Allah SWT yang mampu menghantarkan hambanya kepada keselamatan, kebahagiaan dan kejayaan hidup baik di Dunia dan Akhirat. Oleh karena itu bagi hambanya yang dapat beramal dengan ikhlas dan mengikuti syari’at Nya maka amalanya akan diterima Allah SWT karena amalanya tersebut pasti sudah berada dalam koridor yang lurus dan di ikuti cahaya petunjuknya, sebaliknya bagi siapa yang beramal betapapun baik dan ikhlasnya amalan tersebut tanpa di landasi dan bertentangan dengan syari’at Nya maka amalan tersebut sia sia dan ditolak oleh Allah SWT.

Sumber pokok Dinul Islam adalah wahyu Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW yang di tuangkan dalam Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diterangkan oleh Allah SWT dalam firmanya:

“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ruh (Al Quran) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki diantara hamba hamba kami dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy Syuro: 52)

Adapun makna Ruh yang dijelaskan dalam ayat tersebut adalah Al Quran sebagai nyawa dari jiwa yang dapat menhidupkan jiwa yang telah mati dalam mengenal Allah SWT, dan makna Cahaya yang dapat menyinari kegelapan hati dalam mengenal Dien Allah.

Kedua sumber pokok Dinul Islam ini adalah merupakan wujud konsep Al Haq (Kebenaran yang mutlak dan murni) yang tidak tercampur dengan kebatilan sedikitpun, sebagaiman diterangkan Allah SWT dalam firmanya :

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu dating kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. YANG TIDAK DATANG KEPADANYA (AL QURAN) KEBATILAN BAIK DARI DEPAN MAUPUN DARI BELAKANGNYA, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”(Fushilat: 41-42)

Keaslian Al Quran dan As Sunnah pasti terjamin keaslianya sejak diturunkan hingga hari kiamat. Dan siapa pun tidak akan mampu untuk memalsukan dan merubah kandungan Al Quran, kerena Allah SWT memeliharanya dari usaha usaha manusia untuk merusaknya. Sebagaimana firman Allah SWT berikut:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya KAMI BENAR-BENAR MEMELIHARANYA.”(Al Hijr:9)

Bahkan dalam surat lain di dalam Al Quran Allah SWT menantang orang orang yang masih ragu akan keaslian dan kebenaran Al Quran untuk membuat satu surat yang dapat menyamainya, dan Allah memastikan tidak ada satu pun manusia dan jin yang mampu membuatnya, Allah SWT berfirman:

“Dan jika kamu (tetap)dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba Kami(Muhammad), BUATLAH SATU SURAT SAJA YANG SEMISAL AL QURAN ITU DAN AJAKLAH PENOLONG PENOLONGMU SELAIN ALLAH, JIKA KAMU ORANG ORANG YANG BENAR. Maka jika kamu tidak dapat membuat(Nya) DAN PASTI KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBUATNYA, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang orang yang kafir.(Al Baqarah: 23-24)”

Bahkan meskipun manusia bersekutu dengan jin untuk menandingi Al Quran , mereka tidak akan pernah sanggup sedikitpun, Firman Allah dalam Al Quran (Al Isra: 88)

“Katakanlah: Susungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, NISCAYA MEREKA TIDAK AKAN DAPAT MEMBUAT YANG SERUPA DENGAN DIA, SEKALIPUN SEBAGIAN DARI MEREKA MENJADI PEMBANTU BAGI SEBAGIAN YANG LAIN.(Al Isra: 88)”

Oleh sebab itu Al Quran dan As Sunnah menjadi satu satunya petunjuk jalan yang lurus dan merupakan satu satunya obat yang mujarab dengan ijin Allah SWT dalam menyembuhkan penyakit penyakit hati, sehingga jika manusia dan jin berpegang teguh padanya di jamin tidak akan sesat selama lamanya dan dia akan menjadi sebaik baiknya umat, seperti Firman Allah berikut:

“Hai manusia, Sesungguhnya telah dating kepadamu pelajaran dari Tuhanmu DAN PENYEMBUH BAGI PENYAKIT (YANG BERADA) DALAM DADA dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.”(Yunus: 57)

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan PETUNJUK KEPADA (JALAN) YANG LEBIH LURUS dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”(Al Isro: 9)

Rasulullah SAW juga telah bersabda:
“Aku telah meninggalkan untuk kamu sekalian dua perkara, setelah ada dua perkara tersebut kamu sekalian TIDAK AKAN MUNGKIN SESAT SELAMANYA SELAMA KAMU MASIH BERPEGANG TEGUH KEPADA DUA PERKARA ITU.” Yakni kitab Allah Al Quran dan Sunnahku. (HR. Al Hakim dari Abu Hurairah Ra, dan dishahihkan oleh Al Banni)

Friday, November 20, 2009

SYUKUR DAN SABAR SIKAP TERBAIK DALAM MENJALANI HIDUP

Bismillahirohmanirrohim
Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Dalam mengarungi hidup, kita sering menghadapi persoalan, baik yang kecil maupun yang besar. Sesungguhnya, persoalan mendasar dari masalah hidup itu adalah cara kita memandang problematika hidup. Islam dengan segala ajarannya yang luhur sudah mengajarkan kita dua hal yaitu syukur dan sabar.

Tentang hal ini rasulullah bersabda : Dari Abi yahya Shuhaib bin Sinan RA. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya menakjubkan keadaan orang mu’min, karena segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang mu’min. Bila ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, yang demikian itu baik baginya. Dan bila ia tertimpa kesusahan ia juga bersabar, yang demikian itupun baik baginya”.

Syarah Hadits

Hadits diatas diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Zuhud Bab Urusan Orang Mu’min Semuanya Baik. Sanad hadits ini disandarkan kepada Abu Yahya Shuhaib bin Sinan RA. Ia digelari Abu Yahya oleh Rasulullah SAW. Konon ia juga bergelar Ar-Rumi, tentang ini ada yang mengatakan ia menjadi budak milik orang romawi sejak kecil, ia kemudian dibeli oleh Abdullah bin Jad’an, lalu dimerdekakan. Ada juga yang mengatakan Shuhaib ini lari dari Romawi saat ia dewasa. Ia kemudian dating ke kota Mekkah, bertemu Abdullah bin Jad’an dan mengikutinya. Ia masuk Islam ketika Rasulullah belum lama diangkat menjadi nabi dan Rasul, sehingga ia termasuk orang yang mula-mula masuk islam (as-shabiqunal awwalun). Shuhaib meriwayatkan 30 hadits dari Rasulullah. Ia wafat di madinah dalam usia 73 tahun pada tahun 38 atau 39 H dan dimakamkan di madinah.

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran. Pertama, setiap orang yang mengaku beriman harus menyakini bahwa iman sempurna yang dipegangteguh olehnya berdampak kebaikan pada setiap gerak dan langkahnya. Ketika mendapatkan kebaikan yang membuatnya senang, ia pandai mensyukurinya. Dengan mengucapkan Al-hamdulillah dan bersyukur dengan segenap hati, kemudian bersyukur dengan menggunakan seluruh anggota tubuh, berbagi dengan orang lain dan bersyukur dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul_Nya.

“Barang siapa bersyukur, sesungguhnya syukurnya itu untuk dirinya sendiri” (Q.S. An-Naml : 40).

Begitu juga ketika ditimpa kesusahan, ia menyikapinya dengan sabar. Sabar yang terbaik adalah, saat kesusahan itu tiba dan menghenyakkan batin serta perasaannya, ia menyikapinya dengan sabar. Rasul pernah bersabda “Sesungguhnya sabar itu adalah saat hentakan pertama.” Suatu ketika sayyidina Ali bertempur dalam duel yang hebat, orag kafir yang dilawannya terdesak dan terjatuh, sayyidina Ali berkesempatan menghabisinya. Saat ia mengulurkan pedangnya kearah musuh, orang kafir itu meludahinya. Ternyata bukannya marah sayyidina Ali malah mengurungkan niatnya dan bersabar. Beliau khawatir jihadnya jadi tidak bermakna apa-apa, karena terdorong rasa kesal dan amarah.akibat diludahi.

Itulah karakter orang mu’min yang sempurna, ia mampu menunjukan sikap sabar meskipun menghadapi situasi yang sangat menyakitkan dirinya.

“Bersabarlah dengan kesabaran yang baik (Q.S. Al-Ma’arij : 5)

begitulah syukur dan sabar yang baik, yang memberikan kebaikan dunia dan akhirat.


Jadikanllah semua ini merupakan suatu cobaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman.




Wassalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh

a4_albantani

PENGERTIAN IMAN MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Bisamillahirrohmanirrohim
Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Iman Bisa Bertambah atau Berkurang.

Pertanyaan.
Bagaimana pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah ? Apakah Iman itu bisa bertambah atau berkurang ?

Jawab.
Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :
# Ikrar dengan hati.
# Pengucapan dengan lisan.
# Pengamalan dengan anggota badan


Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab : ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya .

Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat didalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.


Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.

Artinya : Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya .

Artinya : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka ada yang berkata : ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan surat ini ?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya dan mereka mati dalam keadaan kafir .


Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya:


# Mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya daripada yang lain.
# Memperlihatkan ayat-ayat Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman. Artinya : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan . Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.
# Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.


Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu:


# Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.
# Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.
# Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman .
# Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur , maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimanannya dari sisi yang satu ini.



Wassalamu'alaykum warohamtullahi wabarokatuh

a4_albantani

Keagungan dan keutamaan Haji


Haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi orang yang mampu, baik mampu secara materi, maupun secara ruhani. Sayangnya, orang yang secara materi tergolong mampu, banyak yang belum mau menunaikan ibadah suci ini dengan berbagai alasan. Ada yang mengatakan, “Saya sibuk, sulit untuk meninggalkan pekerjaan,” atau “Sebenarnya saya ingin, tapi ibadah saya masih kacau balau takutnya tidak sesuai,” atau “Sayangnya, capek-capek ngumpulin uang, hanya untuk pergi ke Mekah saja.”

Berbagai macam alasan sering dilontarkan sebagai pembela diri. Agar Ikhwah Fillah semakin mantap untuk melaksanakan ibadah haji, atau minimal Ikhwah Fillah punya keinginan kuat untuk menunaikan ibadah di tanah suci, perlu Ikhwah Fillah ketahui keutamaan haji dan umroh, antara lain:

1. Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang paling utama, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

“Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ditanya: ‘Amal ibadah apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda: ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Jihad dijalan Allah’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Haji yang mabrur.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib oleh al-Albani 3/3 hadits No. 1093.)

1. Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

“Barangsiapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima’ dan tidak pula melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ikutilah pekerjaan haji dengan melaksanakan umrah; karena sesungguhnya keduanya dapat menghapus dosa dan kekafiran, sebagaimana ubupan tukang besi dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak; dan tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga semata.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 2901, Tirmidzi II: 153 no:807 dan Nasa’I V:115)

1. Balasan bagi haji mabrur adalah Surga, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

“Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga.” (HR. Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah). Lihat Shahih at-Targhiib No. 1096. )

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Umrah ke umrah selanjutnya adalah sebagai penebus dosa antara keduanya; dan haji mabrur tidak mempunyai balasannya kecuali ke surga.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari III: 697 no: 1773, Muslim II: 983 no: 1349, Tirmidzi II: 206 no:937, Ibnu Majah II: 964 No: 2888 dan Nasa’I V: 115)

Dan dari Jabir bin ‘Abdillah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:

“Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga.” Dikatakan (kepada beliau): ‘Apakah bentuk bakti dalam haji itu?’ Beliau berkata: ‘Memberi makanan dan berbicara yang baik.’” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: “Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib” No. 1104)

1. Haji adalah jihad bagi para wanita dan setiap orang yang lemah, berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

“Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha, ia berkata, aku bertutur: ‘Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita, -pent) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: ‘Bagi kalian (kaum wanita,-Pent), jihad yang paling utama adalah haji mabrur’” .

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, ‘Aisyah Radhiallaahu anha berkata:

“Aku bertutur: ‘Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?’ Beliau berkata: ‘Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.’” (Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).

Dan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:

“Jihad orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah.”

1. Orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, dan permohonan mereka dikabulkan, berdasarkan hadits ‘Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

“Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka.”

Keutamaan perjalanan haji, keutamaan orang yang mati dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji, dan keutamaan orang yang mati dalam keadaan berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan/atau umrah.) Semuanya termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:

1. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

“Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau meng-angkatnya datu derajat.”

1. Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

“Barangsiapa keluar dalam melaksana-kan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat.”

1. Dari ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata:

“Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dipadang ‘Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: ‘Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.’”

- Dan lain-lain.

Itulah sejumlah keutamaan ibadah haji dan umrah yang kami rangkum dari beberapa hadits yang shahih dan hasan. Jika kita telah mengetahuinya, maka sepatutnya bagi orang yang mampu untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah haji, serta menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, manakala ia memilikinya.

Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi berkata: “Disunnahkan melaksanakan haji setiap tahun bagi orang yang mampu selama tidak membahayakan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya” , berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu , Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

“Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.”

Sunnah tersebut semakin ditekankan lagi jika telah melewati empat atau lima tahun dari haji yang dilakukan sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan jasadnya dan Ku-lapangkan penghidupannya, telah berlalu lima tahun atasnya, dia tidak datang kepada-Ku, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan-Pent). (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, Abu Ya’la dan al-Bai-haqi).

Sedangkan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dengan redaksi:

“Bahwasanya Allah berfirman: ‘Sesungguhnya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent) (Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih.)

Wallahu’alam bisshowab…

http://www.abujibriel.com/ajib/2009/11/keagungan-keutamaan-haji/