![]() ![]() | ![]() ![]() |
You Tube
Berita
Friday, July 13, 2007
Wednesday, June 20, 2007
Densus 88 teror Sidiq Abdullah Yusuf (8 thn)
Selasa, 19 Juni 2007
'Bapak Disuruh Jongkok, Terus Ditembak'
JAKARTA -- Perjalanan bersama ayah dan dua adiknya, Sabtu (9/6) siang itu,
tampaknya menjadi pengalaman paling traumatis dalam hidup Sidiq Abdullah
Yusuf (8 tahun). Sidiq melihat sang ayah --Yusron Mahmudi alias Abu Dujana
yang ditetapkan Polri sebagai tersangka teroris-- ditembak dari jarak dekat
oleh anggota Detasemen Khusus 88 (Antiteror) Mabes Polri.
''Bapak disuruh turun dari motor, disuruh jongkok, terus ditembak dari
belakang,'' ujar Sidiq pelan, ketika datang ke Mabes Polri bersama ibunya,
Sri Mardiyati (35 tahun), dan rombongan keluarga, Senin (18/6).
Sidiq berkisah, siang itu Yusron bersama dia serta dua adiknya, Salman Faris
Abdul Rahman (6 tahun) dan Hilma Sofia (2,5 tahun), pergi untuk menonton
pemilihan kepala desa di lapangan Desa Kebarongan, Kec Kemrajen, Kab
Banyumas, Jateng. Sekitar 100 meter dari rumah, di suatu perempatan, kata
Sidiq, sepeda motor ayahnya tiba-tiba dipepet pengendara sepeda motor
lainnya.
Ketiganya pun secara bersamaan terjatuh dari motor. Bahkan, Hilma yang saat
itu membonceng di depan Yusron, sempat tertindih motor. ''Habis itu, aku
dipegangi oleh orang itu,'' ujar Sidiq yang tampang polosnya menyiratkan
trauma belum hilang darinya. Hanya kalimat-kalimat pendek yang bisa dikutip
wartawan dari mulut Sidiq.
Pengakuan Sidiq kepada Tim Pengacara Muslim (TPM) tak kalah mencengangkan.
Menurut Qadhar Faisal, salah satu kuasa hukum keluarga Yusron, tidak hanya
Sidiq yang melihat ayahnya ditembak dari jarak dekat. Dua adik Sidiq, kata
Qadhar, juga ikut melihat ayah mereka tak berdaya ditembus timah panas,
sebelum akhirnya mereka masuk kembali ke rumah. ''Saat lari, Sidiq mendengar
empat kali tembakan, Salman tiga kali,'' kata Qadhar.
Sri Mardiyati yang kemarin datang ke Mabes Polri sambil menggendong Hilma,
menambahkan, tak lama setelah tiga anaknya sampai di rumah, beberapa petugas
menjemput keluarganya. Lalu, mereka dibawa ke sebuah hotel di Yogyakarta.
Sejak saat itu, Mardiyati dan anak-anaknya tidak pernah lagi bertemu Yusron.
''Saya tidak kenal Abu Dujana, suami saya bernama Yusron atau dikenal Ainul
Bahri,'' tegas Mardiyati ketika wartawan menanyakan sejauh mana kedekatannya
dengan Abu Dujana.
Dia yakin, proses penangkapan polisi terhadap suaminya yang dianggap
tersangka teroris, hanyalah rekayasa untuk memuaskan dunia Barat. Suaminya,
kata Mardiyati, hanyalah pengrajin tas biasa. ''Saya menyangkal semua yang
diekspose media.''
Merasa proses penangkapan Yusron melanggar HAM, Qadhar akan
mempraperadilankan Kapolri, Jenderal Sutanto, ke Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan. Surat gugatan praperadilan akan didaftarkan pada Rabu (20/6).
Pelanggaran HAM, katanya, terjadi karena ketika ditembak, Yusron tidak
memegang senjata, tak mencoba melarikan diri, tidak melawan, dan bukan
pelaku tindak pidana. Terlebih, penembakan Yusron disaksikan langsung ketiga
anaknya.
Sebelumnya, Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Bambang Hendarso Danuri,
menegaskan tidak ada rekayasa dalam proses penangkapan teroris. Bambang
mengatakan, bisa mempertanggungjawabkan aksi penggerebekan teroris secara
hukum.
(dri )
http://www.republik <http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=297115>
a.co.id/koran_detail.asp?id=297115
<http://www.republik
<http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=297115&kat_id=3>
a.co.id/koran_detail.asp?id=297115&kat_id=3> &kat_id=3
Usaha-Usaha Mengisolasi Islam
Usaha-Usaha Mengisolasi Islam
Assalaamu'alaikum wr. wb.
Salah satu modus operandi mutakhir untuk menghancurkan kesolidan umat
Islam dunia saat ini adalah dengan mengisolasi Islam, yaitu
melokalisasinya ke dalam batasan-batasan wilayah geografis sehingga
kekuatannya terpecah-belah. Munculnya sentimen antarbangsa dan
perasaan bangga pada bangsanya sendiri (yang bisa mengarah pada
fasisme jenis baru) adalah senjata yang terbukti cukup ampuh di masa
lalu. Bangsa penjajah dari Eropa sering menggunakan metode devide et
impera semacam ini, dan Indonesia pernah mengalami masa-masa pahit
karenanya.
Runtuhnya Khilafah Islamiyah dahulu tidak terlepas dari sentimen
kebangsaan yang diprovokasi oleh bangsa-bangsa Barat, misalnya antara
warga Arab dan Turki. Pada akhirnya, Turki sebagai pusat
kekhalifahan ketika itu justru menciptakan sebuah tatanan kenegaraan
baru dengan dasar sekularisme. Saking bencinya dengan segala sesuatu
yang `berbau Arab', pada masa itu sempat berhembus keinginan untuk
mengubah adzan ke dalam bahasa Turki. Keinginan yang sama bodohnya
dengan shalat dwibahasa di Indonesia beberapa waktu yang lalu, dan
alhamdulillaah memang tidak pernah benar-benar tercapai.
Terpecah-pecahnya umat Islam dalam berbagai negara memang menjadi
masalah yang amat pelik. Meskipun banyak yang mengkritik (dan
memfitnah), Ikhwanul Muslimin dahulu sempat membuat kekuatan Zionis
ketar-ketir dengan angkatan bersenjatanya. Padahal ia hanyalah
sebuah organisasi, bukan negara. Apa dinyana, yang menikam mereka
dari belakang ternyata justru saudara-saudaranya sendiri, terutama
pemerintah Mesir yang ideologinya bisa `dibeli' dengan harga murah.
Jika tidak digagalkan oleh pihak-pihak yang main mata dengan bangsa
Eropa dahulu, barangkali Palestina tidak perlu menderita hingga
sekarang. Kenyataannya, bangsa Palestina justru dizalimi habis-
habisan oleh sikap diam saudara-saudara seimannya di Timur Tengah.
Belum lama ini, Gus Dur juga telah menunjukkan sikap aslinya terhadap
perjuangan rakyat Palestina. Dalam sebuah wawancara*, secara terang-
terangan ia menyatakan simpatinya pada gerakan Zionisme yang telah
mencaplok tanah Palestina. Ketika dikonfrontasi dengan fakta bahwa
Palestina adalah negara yang terjajah, Gus Dur dengan ringannya
menjawab, "Ah, Anda percaya pada propaganda orang Palestina."
Barangkali Gus Dur lebih suka dengan propaganda AS dan kaum Zionis,
atau barangkali ia pun tengah menebar propaganda? Yang jelas,
sikapnya telah menunjukkan betapa ia tidak merasa bersaudara dengan
umat Islam Palestina yang tidak sebangsa dengannya.
Penerusnya di PBNU, yaitu Hasyim Muzadi, juga belum lama ini
menyebarkan ide tentang `bahayanya ideologi transnasional' di
Indonesia, utamanya dalam tubuh umat Islam. Dengan sekali tembak,
Hasyim Muzadi langsung mendiskreditkan sekian banyak pergerakan Islam
yang memiliki akar hubungan dengan pergerakan lain di luar negeri.
Maka gerakan tarbiyah ala Ikhwanul Muslimin, penuntutan syariat Islam
ala Hizbut Tahriir, atau dakwah gaya Jamaah Tabligh, semuanya
langsung diberi cap haram ala Hasyim Muzadi. Dengan fatwa demikian,
seolah-olah Hasyim Muzadi lupa bahwa agamanya sendiri adalah sebuah
ideologi transnasional yang berasal dari tanah seberang. Apakah
Hasyim Muzadi bersedia murtad hanya karena agamanya datang dari
negeri lain?
Penolakan ideologi yang berasal dari negeri lain ini tidak hanya
hipokrit, melainkan juga sangat dekat dengan kesesatan logika Bani
Israil di masa lalu. Sepeninggal Nabi `Isa as., kaum Bani Israil
menggembar-gemborkan ramalan mengenai kedatangan Sang Nabi terakhir
yang akan memimpin umat hingga akhir jaman. Mereka menunggu dengan
penuh harap, walaupun hal ini juga terdengar sangat hipokrit karena
mereka telah berusaha mencelakai Nabi-Nabi sebelumnya, misalnya Nabi
Yahya as. dan Nabi `Isa as. Akan tetapi, ketika Sang Nabi Akhir
Jaman itu akhirnya muncul, mereka menolaknya mentah-mentah hanya
karena beliau berasal dari sebuah negeri yang peradabannya tidak maju
(yaitu Mekkah), bangsa yang tidak dikenal kehebatannya (yaitu bangsa
Arab yang terjepit diantara dua adidaya yang bahkan tidak tertarik
untuk menjajahnya), dan garis keturunan yang berbeda dengan mereka
(yaitu Bani Ismail, bukan Bani Ishaq). Mengapa harus menolak
kebenaran hanya karena ia datang dari golongan di luar kita?
Beberapa waktu sebelum muncul kasak-kusuk tentang `ideologi
transnasional' ini, Hasyim Muzadi juga pernah berkomentar di TV bahwa
ia mengharapkan munculnya `Islam yang Indonesiawi' demi kebaikan
seluruh penduduk negeri ini. `Islam yang Indonesiawi' ini sudah
pasti senafas dengan seruannya untuk menolak `ideologi
transnasional', yaitu penolakan terhadap apa pun (termasuk nilai-
nilai agama sekalipun) yang tidak sesuai dengan kultur bangsa
(na'uudzubillaah).
Pada diskusi pekanan di kantor INSISTS Sabtu lalu (16/06), Adian
Husaini menceritakan tentang sebuah move baru di Indonesia yang
dilakukan oleh orang-orang yang juga memiliki agenda untuk
melokalisasi umat Islam. Gerakan itu dimulai dengan diresmikannya
sebuah program yang merupakan kerja sama antara Universitas Gajah
Mada (UGM), UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) dengan membentuk sebuah konsorsium yang diberi nama Indonesian
Consortium for Religious Studies (ICRS). Konsorsium ini akan
menyelenggarakan sebuah program doktoral studi agama-agama yang
perkuliahannya akan dimulai pada September 2007 mendatang. Jangan
kira pemerintah tidak tahu-menahu, karena pada persemiannya, Sri
Sultan Hamengkubuwono X hadir dan membubuhkan tanda tangannya pada
acara tersebut.
Dalam sebuah brosur yang disebarluaskannya, ICRS menjelaskan salah
satu `keistimewaan' program studinya dengan kata-kata berikut : "The
primary strength of ICRS-Yogya is the study of Indonesian religions,
especially Indonesian Islam." Lebih lanjut, ICRS juga menjelaskan
bahwa mereka juga memiliki akses dan referensi untuk meneliti agama-
agama lainnya, "ICRS-Yogya also has strong resources for the study of
Indonesian Christianity, and can facilitate study of Balinese
Hinduism, Indonesian Buddhism, Indonesian Chinese religions and
indigenous local religions." (garis bawah adalah bentuk penekanan
dari saya.
Di sini jelas bahwa ICRS tengah melakukan operasi lokalisasi agama-
agama, khususnya Islam. Jika ada Indonesian Islam (yang secara
harfiah berarti `Islam ala Indonesia'), maka berarti mereka juga
mengakui (atau bahkan mengusahakan) adanya Islam ala Hongkong, Islam
ala Denmark, Islam ala Nigeria, atau Islam ala Venezuela. Dengan
demikian, umat Islam tidak mampu berkumpul dalam satu suara, karena
rasa kebangsaan telah mengalahkan persatuan dalam iman. Jika kita
menilik lebih jauh pada penggunaan frase "indigenous local
religions", jelaslah bahwa Islam dianggap sebagai `agama non-lokal'
(kita bisa menyebutnya `agama transnasional' untuk mengadaptasi gaya
bahasa Hasyim Muzadi) dan dengan demikian, perlu di-Indonesiakan
sehingga terciptalah `Islam ala Indonesia' atau `Islam yang
Indonesiawi'.
Waspadalah!
wassalaamu'alaikum wr. wb.
*bisa dilihat di: http://swaramuslim.net/more.php?id=5606_0_1_0_M
Label:
Islam
Subscribe to:
Comments (Atom)






