
1. Kami bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan tidak ada tugas bagi kita selain beribadah kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 56)
Ibadah yang harus diperuntukkan hanya kepada Allah itu adalah mencakup segala hal yang diperintahkan Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, baik yang lahir maupun yang batin.
Allah ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (QS. Al-An’âm [6]: 162-163)
Dalam Islam, kesaksian ini merupakan amalan yang dilakukan pertama kali, terakhir kali dan sepanjang hidup baik secara lahir maupun batin. Hal ini juga merupakan pokok aqidah yang diserukan oleh semua Rasul.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus (para) Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thoghut’.” (QS. An-Nahl [16]: 36)
Barang siapa mengucapkannya dan menetapi syarat-syaratnya, serta melaksanakan haknya maka dia adalah seorang muslim. Barangsiapa tidak melaksanakan syarat-syaratnya, atau melakukan salah satu dari pembatal-pembatalnya tanpa udzur yang telah disepakati oleh para ulama ahlus sunnah wal jama’ah, maka dia kafir meskipun dia mengaku sebagai seorang Muslim.
Allah ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).
Atas dasar itu maka kami menjauhi, membenci, memusuhi dan memerangi thaghut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan dia rela untuk diibadahi), juga segala bentuk peribadahan kepada selain Allah.
Kami menentang para pelakunya dan antara kami dengan mereka ada permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai mereka hanya beribadah kepada Allah saja.
Allah ta’ala berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَآؤُا مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadahi selain Allah, kami tentang kalian, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata’.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)
Walaupun demikian, kita tidak dilarang berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi Islam.
Allah ta’ala berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8).
2. Kami beriman bahwa Allah ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur segalanya. Kami juga beriman bahwa Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu.
Allah ta’ala berfirman:
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”(QS. Al-Fatihah [1]: 2).
Allah ta’ala juga berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Mahasuci Allah Yang di Tangan-Nya segala kekuasaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk [67]: 1).
3. Kami beriman bahwa Allah ta’ala memiliki Asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat yang agung dan sempurna, sertatidak ada sesuatu pun yang menyerupai dan menyamai-Nya.
Kami mengimani Asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat tersebut apa adanya, sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih tanpa disertai dengan ta’thil, tamtsil, takyif dan ta’wil.
Dalam hal ini kami pertengahan antara ahlut ta’thil (orang-orang yang menafikan) adanya Asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat Allah yakni Jahmiyah, dan ahlut tamtsil (orang-orang yang menyerupakan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya), yakni Al-Musyabbihah.
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)
4. Kami bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu alaihi was sallam adalah utusan Allah kepada seluruh makhluk dari kalangan manusia dan jin, yang wajib diikuti dan ditaati semua perintahnya, serta diyakini dan dipercayai segala apa yang diberitakannya. Kami menetapi segala konsekuensi yang terdapat dalam firman Allah ta’ala:
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيما
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak terasa berat dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 65)
5. Kami beriman dengan keberadaan para Malaikat Allah yang mulia, juga bahwa mereka itu ma’shum sehingga tidak pernah membangkang perintah Allah dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, dan bahwa mencintai mereka itu termasuk keimanan, sedangkan membenci mereka itu termasuk kekafiran.
Allah ta’ala berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً أُوْلِى أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (QS. Fâthir [35]: 1).
مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ
“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah[2]: 98).
6. Kami beriman bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam Allah ta’ala dengan huruf-huruf dan makna-maknanya, dan bahwasanya Kalam itu adalah salah satu sifat Allah ta’ala dan kami menyakini bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk. Oleh karena itu, wajib untuk diagungkan, diyakini, diikuti dan dijadikan sebagai sumber hukum.
7. Kami beriman kepada semua nabi dan Rasul Allah, yang pertama adalah Adam[1] dan yang terakhir adalah Muhammad Shallallahu alaihi was sallam, mereka semua diutus dengan membawa risalah tauhid. Allah ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya,‘Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 25).
قال الله تعالى:وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan sesungguhnya telah Kami utus Rasul-Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mukmin [40]: 78)
8. Kami meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi dan rasul penutup dan terakhir, tidak ada nabi dan rasul setelah beliau.
Cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi was sallam itu hukumnya wajib dan merupakan ibadah, sedangkan membencinya itu adalah kekafiran, pengkhianatan dan kemunafikan.
Karena kami mencintai Nabi kami Shallallahu alaihi was sallam, maka kami mencintai dan menghormati ahli baitnya, kami tidak berlebih-lebihan terhadap mereka dan tidak pula menuduh (memfitnah) mereka.
Allah ta’ala berfirman:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 40).
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah,‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)
لاَتَجْعَلُوا دُعَآءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَآءِ بَعْضَكُم بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur [24]: 63).
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata:
اُرْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَ سَلَّمَ فِي اَهْلِ بَيْتِهِ.
“Jagalah Muhammad Saw dengan menjaga ahli baitnya.” (HR. Al-Bukhari)
9. Kami ridha dengan seluruh sahabat dan wajib mengikuti jejak mereka,[2] mereka itu semuanya ‘uduul[3] dan kami tidak berkomentar tentang mereka selain yang baik-baik.
Mencintai mereka itu hukumnya wajib bagi kami dan membenci mereka itu merupakan kemunafikan bagi kami.
Kami juga menahan diri terhadap apa-apa yang mereka pertikaikan di antara mereka, yang dalam hal itu mereka melakukan ijtihad dan mereka adalah sebaik-baik generasi.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itudan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisâ [4]: 115).
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100).
10. Kami beriman bahwa segala sesuatu, yang baik maupun yang buruk, itu terjadi atas takdir Allah, semuanya dari Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ” (QS. Al-Hadid [57]: 22)
Allah itu memiliki masyi-ah ‘ammah (kehendak yang bersifat umum) dan irodah muthlaqoh (keinginan yang tidak terbatas). Apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa saja yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi.
Allah ta’ala berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلاَّ أَن يَشَاءَ اللهُ رَبُّ العَالَمِينَ
“Dan tidaklah kalian berkehendak kecuali bila Allah berkehendak. Sesungguhnya Allah Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir [81]: 29)
Allah telah memberikan kehendak dan kemampuan kepada hamba-hamba-Nya untuk memilih perbuatan-perbuatan mereka sendiri setelah ijin Allah sehingga mereka adalah makhluk mukhayyar dan mukallaf.
Juga bahwa qadha’ dan qadar-Nya itu tidak akan keluar dari rahmat, karunia dan keadilan. Allah ta’ala berfirman:
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan menanggung dosa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al Baqarah [2]: 286)
Dalam hal ini kami pertengahan antara Qodariyah yang menafikan adanya takdir Allah dan antara Jabariyyah yang menafikan adanya ikhtiyar manusia.
[1]. Nabi yang pertama adalah Adam Alaihis salam sedangkan Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh Alaihis salam.
[2]Imam Al-Auza’iy rahimahullah berkata, “Lima hal yang selalu diamalkan sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan para pengikutnya dengan baik ialah; Iltizam kepada jama’ah, mengikuti sunnah, menghidupkan masjid, membaca Al-Qur’an dan jihad fii sabilillah.” (Tadzkiratul Huffadz 1/183).
[3]- ‘Adil adalah isim fa’il dari Mashdar Al ‘Adaalah yang berarti kemapanan seseorang pada diin (iman) nya, dan ada yang mengatakan; bahwa Al ‘Adaalah adalah orang yang tidak nampak padanya hal-hal yang meragukan.



No comments:
Post a Comment