11. Kami beriman bahwa siksa dan nikmat kubur itu benar-benar ada. Kami juga beriman terhadap pertanyaan Munkar dan Nakir, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Al-Qur’an dan hadits shahih sebagaimana firman Allah:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Neraka ditampakkan kepada mereka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat),‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras’.” (QS. Al-Mukmin [40]: 46).
Dalam hadits Nabi Shallallahu alaihi was sallam;
إِذَا قُبِرَ أَحَدُكُم أَوِ الإِنْسَانُ أتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأحَدِهِمَا: الـمُنكَرُ، وَلِلآخَرِ: النَّكيرُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ: مَا كُنتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ؟ فَهُوَ قَائِلٌ مَا كَانَ يَقُولُ.
فَإِنْ كَانَ مُؤمِناً، قَالَ: هُوَ عَبْدُ اللَّـهِ وَرَسُولُهُ، أَشْهَدُ أََنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّـهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولَانِ لَهُ: إِنْ كُنَّا لَنَعْلَمُ إنَّكَ لَتَقُولُ ذَلِكَ، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعاً فِي سَبْعِينَ ذِرَاعاً، وَيُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ، فيُقاَلُ لَهُ: نَمْ فَيَنَامُ كَنَوْمَةِ العَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلاَّ أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّـهُ مِن مَضجَعِهِ ذَلِكَ. وَإِنْ كَانَ مُنَافِقاً، قَالَ: لَا أَدْرِي، كُنتُ أَسْمَعُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيئاً، فَكُنتُ أَقُولُهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: إِنْ كُنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ، ثُمَّ يُقَالُ لِلأَرْضِ: اِلتَئِمِي عَلَيهِ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيهِ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهَا أَضْلاَعُهُ، فَلاَ يَزَالُ مُعَذَّباً حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّـهُ مِن مَضجَعِهِ ذَلِكَ.”
“Apabila salah seorang di antara kalian atau manusia itu dikubur, ia akan didatangi oleh dua Malaikat hitam dan biru, salah satunya bernama Munkar dan satu lagi bernama Nakir. Lalu keduanya bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu mengenai orang ini (Muhammad)?’ Maka ia mengatakan sebagaimana yang ia katakan dahulu ketika di dunia.
Jika ia orang beriman maka ia mengatakan, ‘Dia adalah hamba dan utusan Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’ Lalu Malaikat itu mengatakan, ‘Kami mengetahui bahwa Engkau akan mengatakan seperti itu.’
Kemudian kuburnya dilapangkan 70 hasta kali 70 hasta, dan ia diberi cahaya di dalamnya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Tidurlah sebagaimana tidurnya pengantin baru yang tidak akan dibangunkan kecuali oleh keluarga yang paling ia cintai.’ Ia pun tertidur sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya itu.
Jika ia seorang munafik, ia akan mengatakan, ‘Dahulu aku mendengar orang mengatakan sesuatu lalu aku katakan apa yang mereka katakan itu.’ Maka kedua Malaikat itu mengatakan, ‘Kami telah mengetahui bahwa Engkau akan mengatakan hal itu. Kemudian dikatakan kepada bumi, ‘Himpitlah dia.’ Maka bumi pun menghimpitnya sampai tulang-tulang rusuknya remuk. Lalu ia terus disiksa sampai Allah membangkitkan ia dari tempat tidurnya itu.”
(Hadits Hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Abi ’Ashim dan Ibnu Hibban)
12. Kami beriman adanya tanda-tanda hari kiamat yang secara shahih diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi was sallam, seperti Ya’juj dan Ma’juj, angin lembut yang akan mencabut setiap nyawa orang beriman, terbitnya matahari dari barat; dan bahwa fitnah (ujian/bencana) yang paling besar sejak Allah menciptakan Adam ‘alaihis salam sampai hari kiamat adalah Al-Masih Ad-Dajjal.
Kami beriman dengan munculnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam yang menegakkan keadilan. Kami juga beriman akan kembalinya khilafah Ar-Rasyidah sesuai dengan manhaj Nabi shallallahu alaihi was sallam.
13. Kami beriman akan adanya hari akhir dan kebangkitan setelah mati, serta seluruh kejadian ketika itu yang secara shahih diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi was sallam, seperti Haudh (telaga), Mizan, Shirath, pembagian catatan amal dan sebagainya.
Allah ta’ala berfirman:
وَاللهُ أَنبَتَكُم مِّنَ اْلأَرْضِ نَبَاتًا ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا
“Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah dan mengeluarkan kalian darinya dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh [71]: 18)
14. Kami beriman bahwa manusia itu akan mendapatkan balasan amal mereka masing-masing. Allah ta’ala berfirman:
مَن جَآءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا وَمَن جَآءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلاَّ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah ia diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu melainkan (sesuai) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Qashash [28]: 84)
15. Kami meyakini bahwa Allah tidak akan mengampuni orang yang mati dalam dosa syirik, adapun dosa lain selain syirik maka Allah akan menyiksa siapa saja yang Ia kehendaki, dan memaafkan siapa saja yang Ia kehendaki.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 48)
16. Kami beriman bahwa Allah itu mengeluarkan dari neraka sekumpulan orang dari kalangan orang-orang bertauhid dengan syafaat orang-orang yang memberi syafaat, dan bahwa syafaat itu benar adanya bagi orang yang telah diijinkan oleh Allah dan diridhai untuk memberikan syafaat.
Allah ta’ala berfirman:
وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَى
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS.An-Najm [53]: 26).
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Saiapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin dari-Nya?” (QS. Al-Baqarah[2]: 255).
17. Kami beriman dengan syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa ia memiliki kedudukan yang terpuji pada hari kiamat.
أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِىَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا ».
“Dari Abu Hurairah r.a beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam bersabda, “Setiap Nabi alaihis salam memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyimpannya sebagai syafa’at bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafa’at tersebut Insya Allah akan didapati oleh setiap orang dari umatku yang wafat dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ta’ala dengan suatu apapun” (HR. Bukhari dan Muslim)
18. Kami meyakini bahwa Iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Ucapan itu ada dua macam yaitu ucapan hati dan ucapan lisan, sebagaimana perbuatan juga ada dua, yaitu perbuatan hati dan perbuatan anggota badan.
Adapun yang dimaksud ucapan hati adalah pengetahuan, ilmu dan kepercayaan. Sedangkan yang dimaksud perbuatan hati di antaranya adalah cinta, takut, harapan dan lain-lain. Semua itu disebut oleh Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam.
الإِيماَنُ بِضْعُ وَ سِتُّونَ شُعْبَةٍ ( وَ فِي رِوَايَةٍ بِضْعُ وَ سَبْعُونَ شُعْبَةٍ) اَعْلاَهاَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَ اَدْنَاهَا اِمَاطَةُ الأَذَى.
“Iman itu mempunyai sekitar 60 cabang atau lebih (dan dalam riwayat yang lain 70 cabang atau lebih), yang paling tinggi adalah Laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan batu.”
Kami juga meyakini bahwa Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
19. Kami tidak mengkafirkan seseorang dari kalangan orang-orang yang bertauhid atau orang yang shalat menghadap kiblat kaum muslimin (ahlul kiblat), lantaran ia melakukan perbuatan dosa seperti zina, minum khamer dan mencuri selama ia tidak menghalalkannya.
Keyakinan kami mengenai iman ini bukan seperti keyakinan Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar, bukan pula seperti keyakinan Murji’ah yang tidak mengkafirkan orang yang hatinya masih menyatakan beriman meskipun ia melakukan amalan pembatal keislaman.
20. Kekafiran itu ada yang akbar dan ashghar, dan masing-masing hukumnya berlaku bagi pelakunya baik kekafiran itu berupa keyakinan, ucapan atau perbuatan.
Akan tetapi, mengkafirkan orang tertentu (takfirul mu’ayyan) di antara mereka dan memvonis mereka kekal di neraka, itu tergantung dengan terpenuhinya syarat-syarat dan tidak adanya penghalang-penghalang untuk dikafirkan.
Maka kami meyakini nash-nash janji (wa’du) dan ancaman (wa’id), menjatuhkan vonis kafir dan fasiq secara umum (takfirul muthlaq) dan kami tidak menjatuhkannya kepada orang tertentu (takfirulmu’ayyan) setelah ia masuk dalam kategori hukum yang bersifat umum itu.
Kecuali, jika sudah tidak ada lagi sesuatu yang bertentangan dengan hukum pengkafiran tersebut pada dirinya. Kami juga tidak mengkafirkan orang berdasarkan sangkaan.



No comments:
Post a Comment