
Sejak peristiwa WTC di Amerika hingga meledaknya Bom Bali I, Bom Marriot, Bom Bali II, Bom Kuningan dan Bom Marriot-Carlton media masssa begitu menggebu-gebu memberitakan tentang figur “pelaku” dan latar belakang sosial para “pelaku” dan keluarganya. Begitu bersemangatnya media massa melakukan penelusuran kehidupan keluarga dan sosial pelaku. Bahkan terkadang secara sembrono, media massa menampilkan wawancara dengan para tetangga tersangka, yang sama sekali tidak mengenal tersangka, namun ditampilkan seakan-akan para tersangka dan keluarganya inilah yang mengasingkan diri dari masyarakat sekitar.
Dalam kasus Jibril dan keluarganya, media sama sekali tidak menampilkan wawancara dan konferensi pers dari pihak pengurus masjid yang menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak keberatan dengan aktivitas ustad Muhammad Jibril, ayah dari Muhammad Jibril di masjid Al Munnawarroh. Akan tetapi media massa justru menampilkan secara panjang lebar, pernyataan dan wawancara dari seorang preman yang mengaku-ngaku ulama. Dan celakanya media massa memberi predikat kepada sang preman tersebut sebagai tokoh masyarakat dan ulama, padahal jelas-jelas oknum tersebut membayar sejumlah preman untuk melakukan teror terhadap jemaah dan pengurus masjid.
Begitu juga dalam aksi penggrebekan di Temenggung, media massa begitu heboh melakukan liputan siaran langsung.
Dosen pasca sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya Prof. Dr. Ahmad Jainuri, kepada www.hidayatullah.com memberikan pandangnan kritis atas aksi di Temenggung ini. Menurut pakar masalah radikalisme ini, aksi yang dilakukan pihak aparat seharusnya aksi rahasia. Tapi anehnya berubah menjadi aksi publik dengan peliputan media yang berlebihan. Pertunjukan demonstratif itulah yang dinilai menimbulkan sejuta tanda tanya.
“Aksi intelijen kan aksi sangat rahasia. Sedangkan, dalam kasus penggerebekan Noordin kemarin sangat demonstratif, ” ujarnya. Ia juga mempertanyakan tindakan aparat yang cenderung terburu-buru. “Kenapa polisi mesti memuntahkan banyak peluru dan penggerebekan selama 18 jam. Bukannya densus 88 memiliki alat canggih untuk mendeteksi hal itu,” imbuhnya.
Menurutnya, jika dideteksi dan dianggap tidak berbahaya, seharusnya tersangka bisa ditangkap hidup-hidup dan bisa dimintai keterangan lebih lanjut. Apalagi, katanya Noordin M Top sudah lama dicari. “Kenapa pihak kepolisian tidak mengangkap hidup-hidup Noordin dan mengorek informasi darinya,” pungkasnya.
Lebih jauh, menurutnya, biasanya dalam teori gerakan radikalisme, tindakan terorisme biasanya sengaja direkayasa oleh pihak tertentu untuk sebuah kepentingan. Jainuri juga mengatakan, kenapa selama ini, Densus 88 tidak bisa menangkap Noordin M Top. Padahal, memiliki alat dan persenjataan canggih. “Masa tidak bisa menangkap Noordin M Top, padahal, memiliki alat canggih,” ujarnya.
Apabila kita lihat secara keseluruhan isi pemberitaan media massa, maka pada umumnya, media massa liberal sekuler, selalu menampilkan sisi buruk dari orang –orang yang dituduh sebagai teroris, baik kehidupan pribadi maupun sosialnya, dan sebaliknya selalu menampilkan sisi-sisi yang dianggap sebagai prestasi oleh institusi negara.
Dengan demikian, secara gamblang, apa yang dilakukan oleh media massa tersebut, tentu saja bersama-sama dengan institusi negara yang berkepentingan, adalah merupakan sebuah bentuk propaganda. Menurut Nancy Snow, penulis buku ”Propaganda Inc : Menjual Budaya Amerika ke Dunia”, ada tiga karekteristik propaganda. (1) Komunikasi yang disengaja dan dirancang untuk mengubah sikap orang yang menjadi sasaran, (2) Komunikasi yang menguntungkan bagi si pelaku propaganda untuk memajukan kepentingan dirinya, contohnya adalah : periklananan, humas dan kampanye politik, dan (3) Komunikasi tersebut biasanya dilakuakan satu arah.
Amerika Serikat mempunyai lembaga propaganda yang diberi nama Committee for Public Information (CPI), yang didirikan pada 1917 ditengah berkecamuknya Perang Dunia I. CPI sangat berhasil dalam misinya, yaitu membangun citra negatif musuh Amerika dan sekutu dan sebaliknya membangun citra positif sebagai pembebas bagi diri mereka, sehingga kemudian Amerika membentuk lembaga yang lebih permanen yang diberi nama United State Information Agency (USIA).
Badan ini (USIA) difungsikan untuk melakukan propaganda kebaikan Amerika dengan cara mengekspor kebudayaan, sistem ekonomi dan sistem politik Amerika ke seluruh dunia melalui berbagai sarana seperti jabatan pos-pos diplimatik, program beasiswa Fulbright dan Aminef, program kunungan singkat ke Amerika (visitor program), program penyebaran informasi dan siaran internasional yang meliputi jaringan televisi dan radio Voice of America (VOA). Untuk mengelabui sasaran, maka Amerika menggunakan istilah public Diplomacy untuk pengganti istilah propaganda, dan unit pelaksana dinegara-negara yang menjadi sasaran propaganda ini dinamakan dengan United State for Information Services (USIS). Secara kelembagaan, USIA ini dalam menjalankan propagandanya menerima dana pertahun hingga US $ 1 Milyar. Ironisnya banyak rakyat Amerika yang tidak mengetahui sama sekali keberadaan badan ini, karena memang keberadaan badan ini dirahasiakan secara ketat dari pengetahuan publik.
Bentuk propaganda yang paling menghasut biasanya mengambil bentuk pernyataan-pernyataan para pemimpin nasional, yang sering disensasionalkan dan dikuatkan serta saling dikonfrontasikan dan dikuatkan dengan siaran nasional dan internasinal serta diperluas oleh jaringan media massa yang berada satu sisi secara ideologi dan politik dengan leberalisme sekulerisme.
Dalam menjalankan mesin propagandanya, AS menggunakan badan intelijen CIA dan institusi USIS / USIA. Salahsatu propaganda pada tingkat global yang digunakan AS adalah CNN. Maka tayangan langsung CNN atas peristiwa 11/9 terkesan kuat merupakan bagian dari kegiatan terorisme negara yang sebenarnya adalah suatu skenario dari Bush dengan mengutuk aksi teror WTC dan Pentagon. Jadi kelas berita-berita yang ditayangkan CNN itu termasuk kategori Black Propaganda, lempar batu sembunyi tangan.
Operasi itu telah disiapkan dengan matang, dengan sasaran jangka pendek, bahkan jangka menengah dan panjang. Maksud dan tujuan sasaran jangka pendek itu adalah untuk membangkitkan kebencian rakyat Amerika dan sekutunya terhadap umat Islam yang diberi label "teroris", membangun opini global tentang adanya musuh bersama yang harus diperangi, seperti ucapan Bush setelah terjadinya peristiwa 11/9: "If you are not with us, you're against us."
Di Indonesia propaganda tersebut dilakukan melalui jalur resmi Kedutaan Besar AS di Jakarta, Konsulat Jenderal di Surabaya, dan Konsulat di Medan. Salah satu isu yang menjadi alat propaganda Amerika untuk memusuhi Islam adalah isu-isu kebebasan beragama. Salah satu cara kerja yang efektif untuk menekan Pemerintah Indonesia agar memberangus Islam kaffah adalah dengan melakukan pertemuan secara berkala berhubungan dengan pejabat Indonesia dan mendorong pejabat Kedutaan lain untuk membahas masalah ini dengan pemerintah. Selain itu juga para staf Kedubes di semua level sering bertemu dengan para pemuka agama dan advokat hak asasi manusia untuk meningkatkan penghargaan terhadap kebebasan beragama. Staf Kedubes juga secara rutin mengadakan pertemuan dengan para pimpinan NU dan Muhammadiyah untuk menjelaskan kebijakan AS dan membahas toleransi antarumat beragama serta isu-isu lain.
Dalam laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Kedubes AS di Indonesia tahun 2007 yang lalu misalnya, mereka mengakui sendiri bahwa AS memang menggarap, baik Pemerintah maupun kalangan civil society seperti LSM dan ormas Islam untuk dijadikan objek propaganda agar sesuai dengan kepentingan AS atau tidak menentang kepentingan AS dan sebisa mungkin dapat menjadi agen atau antek AS dalam mempropagandakan nilai-nilai liberalisme sekulerisme dan tentu saja anti Islam.
Dalam laporan tersebut mereka menamakan propaganda mereka sebagai “mempromosikan pluralisme dan toleransi melalui program-program pertukaran dan masyarakat madani”. Dalam pelaksanaan proyek liberalisasi ini Kedubes melaporkan bahwa “Sebanyak 213 warga Indonesia telah mengunjungi Amerika Serikat dalam program jangka pendek, termasuk melihat peran agama di masyarakat dan politik AS. Para peserta program mengalami langsung bagaimana pluralisme agama, dialog antaragama, dan multikulturalisme menjadi bagian integral dalam masyarakat yang demokratis”.
Cara AS mencuci otak para pemuda Islam adalah dengan cara, sebagimana tertulis di laporan “Misalnya, satu program kepemimpinan pemuda menawarkan remaja Indonesia kesempatan untuk bertemu dengan rekan sebaya di Amerika. Mereka berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, bertemu dengan para pemimpin agama dan terlibat dalam diskusi-diskusi mengenai toleransi beragama”.
AS juga merekrut calon agen-agen mereka dari kalangan intelektual muslim, sebagimana tertulis dalam laporan, yaitu dengan cara ““Delapan penerima beasiswa Fulbright dari Indonesia berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi dan mengambil program-program studi yang langsung berkaitan dengan praktek agama dalam masyarakat demokratis. Tiga akademisi AS datang ke Indonesia untuk mengajar dan melakukan penelitian mengenai topik yang sama”.
(Ibnu Hamid/Abu Ridho)
www.hidayatullah.com
Sumber: www.hidayatullah.com



No comments:
Post a Comment